TiNewss.com

Berimbang Mengabarkan

UPAYA MEMELIHARA MOTIVASI BELAJAR SAAT PANDEMI

Oleh : Kurnia Agustini, S.Pd.

Pandemi seolah tak mau berhenti. Jumlah penderita COVID-19 terus bertambah lagi. Pelanggaran prokes di Sumedang amat kerap terjadi. Menurut informasi di media, denda pelanggaran prokes ini mencapai Rp. 173 juta dalam 2 bulan. Sebagai catatan, jenis pelanggaran tertinggi adalah pelanggaran prokes yang dilakukan pribadi.

Sekolah tatap muka yang rencananya akan dibuka bulan Januari 2021, urung dilaksanakan. Siswa dan orangtua yang sangat berharap sekolah kembali dibuka, kembali didera kekhawatiran sangat, sehingga terpaksa menerima belajar daring lagi. Di sisi lain, kebosanan siswa sudah memuncak, motivasi belajar runtuh, serta orangtua merasa kehabisan daya dari sisi kemampuan sarana ataupun upaya yang bisa membantu putra-putrinya menghadapi belajar daring. Apalagi ditambah kondisi bantuan kuota tak bisa diharap, honor dan tunjangan telat.

Guru pun tak kalah pening. Memilih model pembelajaran dan perlakuan yang membuat siswa bahagia dan menikmati belajar daring. Guru harus seringkali sangat mengalah selama mengajar di masa pandemi. Sekadar bisa meredam kejenuhan siswa. Padahal guru juga bukan berarti tidak terimbas dampak mengajar daring. Sedikit atau pun banyak, sekian lama mengajar daring dengan serba internet, menjadikan guru pun mengalami penurunan motivasi. Bahkan, muncul juga persoalan banyak siswa yang harus “dikejar-kejar” guru untuk belajar daring. Kadang, guru pun serba salah dalam memilih sarana. Alasan dan protes orangtua mengalir, jangan gunakan media yang menghabiskan kuota, jangan menggunakan LKS, tak mampu beli buku, susah sinyal, jangan disuruh mengumpulkan tugas ke sekolah, dan lain sebagainya.

Persoalan memang selalu ada selama manusia hidup. Terlebih di masa pandemi. Sebuah kealamiahan bahwa manusia selalu terdorong mencurahkan tenaganya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Hingar-bingar aktivitas manusia saat ini, sejatinya untuk memenuhi potens kehidupannya, yaitu kebutuhan jasmani dan nalurinya. Kedua potensi kehidupan ini, menyatu dalam penciptaan manusia. Jadi tak satupun manusia yang bisa menolak ataupun membuang potensinya. Untuk itulah manusia beraktivitas. Lalu dalam aktivitas manusia yang beragam ini, muncullah persoalan.

Manusia berniaga, bekerja, mengajar , belajar, berolahraga, menjaga kesehatan, adalah sebagian aktivitas manusia untuk memenuhi potensinya. Akan tetapi, dorongan seperti apa yang membuat manusia beraktivitas? Lalu aktivitas apa yang dipilih manusia untuk memenuhi dorongan itu? Semua bergantung pemahaman dia terhadap kehidupan. Jenis dorongan dan aktivitas yang dipilih ini, pula melahirkan konsekuensi seberapa besar dan pelik masalah yang akan muncul. Oleh karena hidup meniscayakan masalah.

Dorongan manusia melakukan perbuatan kita kenal dengan istilah motivasi. Sebelum kita melakukan perbuatan tentunya ada pendorong yang mewujudkan perbuatan itu. Apakah pendorong itu kuat atau lemah, adalah sesuai dengan jenis motivasinya. Jika kita ingin manusia melakukan perbuatan yang seharusnya, sesuai aturan, tepat, konsisten , maka jangan salah memahami dan memilih motivasi.

Motivasi dapat digolongkan ke dalam tiga jenis, yaitu motivasi materi, motivasi emosi (moral), dan motivasi spiritual (ruhiyah). Motivasi materi adalah motivasi yang paling lemah memberi dampak kepada perbuatan, sedangkan motivasi ruhiyah adalah motivasi yang memberi dampak paling kuat terhadap perbuatan manusia.

Berdasarkan paparan di atas , untuk menjadikan masyarakat taat kepada aturan hukum ataupun aturan aturan protokol kesehatan, maka perlu pemberian motivasi yang tepat. Misalnya, yang kita pilih motivasi materi, yaitu pemberian denda bagi pelanggar protokol kesehatan. Tentunya dibarengi juga pemberian insentif dan honor untuk petugas yang mengontrol pelanggaran tersebut. Motivasi denda dan insentif ini, pastilah membawa hasil. Sepanjang masyarakat dikontrol dengan ketat oleh petugas, denda tegas dan disiplin diterapkan, cukup tersedia jumlah petugasnya, dan ada dana untuk membayar petugasnya. Saat kontrol tidak ada, sanksi lemah ditegakkan, petugasnya sedikit, dana untuk menggaji petugas minim bahkan nol, maka pemberlakuan prokes menjadi ambyar.

Demikian pula dalam masalah belajar daring. Paradigma saat ini adalah sekolah dan guru harus menjadi penggerak pendidikan. Guru harus menjadi inspirasi bagi siswa, keluarga, dan masyarakat, yang artinya guru selayaknya beraktivitas melebihi tupoksinya. Maka jadilah persoalan motivasi ini menjadi sangatlah penting. Bagaimana guru dapat memilih motivasi bagi dirinya dan menularkan motivasi yang sama kepada muridnya secara tepat.

Berangkat dari paradigm guru sebagai penggerak dan inspirasi tersebut, maka penekanan guru saat mengajar di kelas tidaklah lagi terpusat pada bagaimana siswa menguasai materi. Akan tetapi kebermaknaan belajar yang dapat menimbulkan rasa bahagia dan senang siswa kepada proses belajar, tidak kepada hasil belajar. Juga bagaimana proses belajar itu dapat dipakai oleh guru dan siswa dalam memecahkan persoaln hidupnya yang lain. Pertanyaan selanjutnya adalah, motivasi seperti apa yang bisa mewujudkan tujuan seperti itu? Akan dibahas pada tulisan berikutnya..

Marilah kita menjadi penggerak dan inspirasi….semoga

Salam Inspirasi
Penulis

Terima Kasih Untuk Berbagi Tulisan ini!
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •