TiNewss.com

Berimbang Mengabarkan

Tubuh Ritual Tarawangsa

Ujian Praktek Disangkutpautkan Dengan Pilkades di Sumedang, Mahasiswa Pascasarjana ISBI Bandung Meradang

TiNewss.com – Seorang Mahasiswa Pascasarjana marah besar ketika ujian praktek yang diselenggarakan di depan 2 Profesor dari Institut Seni dan Budaya Indonesia (ISBI) Bandung, terpaksa harus dihentikan dan dibubarkan. Apalagi pembubaran acara ini disangkutpautkan dengan Keberadaan orangtuanya yang sedang mencalonkan diri sebagai Calon Kepala Desa Girimukti. Dengan alasan tidak diberikan izin, pihak keamanan meminta acara dihentikan dan dibubarkan.

Hal ini disampaikan oleh Sari Mulyati, S.Sn, Mahasiswi Program Pascasarjana (S2) ISBI Bandung kepada jurnalis TiNewss.com, (11/12/2020).

Sebagai mahasiswa Jurusan Penciptaan Seni, Sari harus membuat Karya Pertunjukan Tradisi. Dirinya mengambil tema tradisi Sumedang, yaitu Tarawangsa. Sari bertindak sebagai Sutradara, Penulis, dan juga Aktor dalan penciptaan dan pertunjukan seni ini.

“Sebagai pengkarya, saya tidak bisa berdiri sendiri. Butuh dukungan dari kru seperti pemain musik, artistik, termasuk para pemain dalam pertunjukan ini. Ini berbeda mungkin dengan jurusan lain misalnya jurusan pengkajian yang cukup sendirian. Kami sudah latihan ini selam 2 bulan lebih, dan saya melibatkan pelaku seni lain termasuk keluarga,” terang Sari.

Pertunjukan ini juga, menurut Sari, waktunya ditentukan oleh Dosen Pembimbing. Dan telah terjadi 2 kali penjadwalan ulang. Namun ternyata dari pihak Desa Girimukti melarang ada kegiatan berkerumun di kediaman Calon Kepala Desa. Yang kebetulan Ayahnya Sari adalah Calon Kepala Desa Girimukti, Nana Nasir.

Tim Pembingbing mengajukan waktu untuk pertunjukan tanggal 10, sehingga orangtua Sari yaitu Nana Nasir mengajukan izin-izin ke Desa.

“Bapak saya mengajukan izin ke Desa, kalau saya mau ujian. Dan saya sudah melakukan persiapa sejak 4 bulan lalu, serta melakuan latihan sejak 2 bulan lalu. Latihan sebanyak 5 kali, aman-aman saja. Karena latihan dilakukan di pendopo saya sendiri, tertutup dan tidak ada orang lain yang menonton,” tambahnya.

Sungguh malang. Ketika waktu yang tentukan tiba. Pertunjukan akan dimulai pada pukul 20:00 WIB (10/12/2020), ada kabar dari seseorang melalui telepon bahwa Ujian Pertunjukan tidak bisa dilanjutkan disebabkan adanya kerumunan dan tidak ada perizinan sebelumnya.

“Dan bilamana acara ini dilanjutkan, Bapak saya akan kena sanksi harus berhadapan dengan Koramil dan Kapolsek,” katanya.

Sebagai anak, Sari merasa serba salah. Jika dilanjutkan Bapaknya akan terkena imbas masalah pencalonan sebagai Kepala Desa. Walaupun Sari memiliki argumen bahwa yang dirinya tidak melanggar protokol kesehatan karena di masa Adaptasi Kebiasaan baru. Tidak ada kerumunan, hanya dirinya para pemain music dan keluarga. Mereka yang mau nonton bisa melalui live streaming. Dan ini, bukan acara Kampanye Bapaknya. Ini adalah acara Ujinan karena dirinya mahasiswa Jurusan Penciptaan Seni.

“Dengan berat hati, akhirnya saya berdialog dengan Dosen Pembimbing. Beruntung mereka dapat memahami. Yang akhirnya akan di jadwalkan ulang. Namun ini sangat memalukan, dan sangat membuat saya sakit hati. Selama 5 kali Kami latihan samapai tengah malam pun, selama itu pula tidak pernah ada teguran. Jumlah yang hadir saat latihan maupun saat mau pertunjukan jumlahnya hampir sama,” tegas Sari.

Lebih lanjut Sari menyampaikan unek-uneknya, jika memang tidak diperbolehkan. Kenapa bukan sejak awal-awal latihan. Ini pas hari H, yang kebetulan masa Kampanye, kok seenaknya dibubarkan.

“Saya ini generasi Muda, ingin melestarikan budaya yang ada di Sumedang. Tidak ada kepikiran kegiatan ini dikaitkan dengan kampanye. Saya melakukan penelitian selama 4 tahun, bahkan jauh sebelum Bapak saya mencalonkan diri (sebagai calon kades). Keluarga Kami sudah terbiasa dengan berkesenian,” ungkap Sari.

“Jujur saya tidak terima, saya sakit hati, mereka tidak tahu sejauh mana saya proses, tidak tahu para pendukung mengeluarkan tenaga pikiran untuk ujian saya. Saya kepingin seseorang yang memutuskan itu baik-baik datang kerumah bisa kita jelaskan. Jangan mengambil keputusan sepihak. Semisalnya memberikan kebijakan 1 jam supaya acara saya selesei setelah itu dibubarkan. Saya pun sedia, tapi malam itu acara dihentikan, dibubarkan,” tambah Sari.

Sari juga menyebutkan bahwa mereka dalam pertunjukan maupun dalam latihan menjaga protokol kesehatan. Menurutnya, kakaknya adalah orang kesehatan, sehingga semua kru dibagi masker dan menjalankan protokol kesehatan sebagaimana mestinya.

Ketika dikonfirmasi tentang izin tertulis dari pihak berwenang, Sari mengaku tidak ada izin tertulis.

“Jujur saja, saya pada saat itu sedang sibuk dengan karya saya. Dan Saya mengurusi semuanya. Tapi saya menganjurkan secara lisan agar crew yang kurang lebih 20 orang, menjaga prokes. Kami sediakan cek suhu, masker, cuci tangan. Lagi pula, Saya tidak mengundang banyak orang. Bahkan saya menyarankan untuk nonton live streaming. Ini Ujian saya, Saya tidak mau kalau ini dianggap hiburan,” tegas Sari.

Bahkan Sari menyebutkan dirinya tidak mengundang 1 orang pun dalam pertunjukan ujian ini. Baik teman kampusnya, maupun teman-temannya di Sumedang.

Menanggapi hal ini, pihak keamanan meyampaikan klarifikasi. Bahwa Nana Nasir telah datang ke Desa Girimukti pada tanggal 8 Desember 2020, menceritakan kepada Intan (Sekretaris Desa) yang katanya mau mengadakan acar jentreng dalam rangka syukuruan anaknya setelah wisuda, rencana acara pada malam hari.

“Petunjuk Ibu Intan, agar koordinasi dengan babinsa. Lalu selanjutnya kembali lagi ke Desa untuk mengurus izin. Namun sampai dengan pelaksanaan tidak kembali lagi ke Desa untuk mengurus Izin,” terang pihak keamanan.

Masih menurut pihak keamanan, Nana Nasir datang ke rumah petugas keamanan pada hari Kamis (10/12/2020) pagi, namun tidak bertemu karena petugas sedang piket.

“Pada pukul 19:30 WIB (10/12/2020) pihaknya dihubungi oleh Kaur Pembangunan Bapak Supriatna, katanya ada acara jentreng di rumah Bapak Nana Nasir. Selanjutnya, melalui telp menghubungi Pak Nasir untuk konfirmasi tentan izin kegiatan. Ternyata dijawab tidak ada. Karenanya, pihak kami tidak mengijinkan kegiatan dilanjutkan karena tidak menempuh izin,” jelas petugas.

Namun petugas memastikan bahwa, tidak benar ada ancaman jika kegiatan terus dilanjutkan maka pencalonan ayahnya sebagai Calon Kepala Desa akan di anulir. (Red/ASH)*

Terima Kasih Untuk Berbagi Tulisan ini!
  • 16
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    16
    Shares