TiNewss.com

Berimbang Mengabarkan

Titik Jenuh COVID-19, Lengah Bisa Jadi Musibah

Dalam 7 hari terakhir sejak Senin (16/11/20) hingga Minggu (22/11/20) di Kabupaten Sumedang telah terjadi lonjakan kasus COVID-19 dengan angka cukup signifikan. Penambahan sebanyak 44 orang terkonfirmasi, 4 orang meninggal dunia dan bertambahnya jumlah warga yang masih harus di Rawat, baik Isolasi Mandiri (Isoman) maupun Isolasi di Rumah Sakit.

Sedangkan di Jawa Barat, peningkatan kasus COVID juga cukup signifikan bahwa bisa mencapai 309 hingga 872 kasus per hari dalam 7 hari terakhir atau mencapai rata-rata 510 orang (sumber : (pikobar.jabarprov.go.id/data).

Hal ini juga terjadi secara mengejutkan di Indonesia, hingga Minggu telah terkonfirmasi hampir setengah juta orang, yakni 497.668 kasus dengan 4.360 kasus baru dalam satu hari terakhir. Dari angkat tersebut, 16 ribu atau 15.884 orang meninggal, (22/11/2020). Secara keseluruhan di tingkat dunia, 58.983.531 orang terkonfirmasi COVID-19, dan 1.393.571 orang meninggal.

Ini adalah data dan fakta yang terjadi. Namun data fakta ini masih banyak orang yang tidak percaya, protokol kesehatan tidak diindahkan, bahkan protokol COVID-19 untuk penanganan pemakaman pun mulai dipertanyakan banyak orang, hingga penolakan oleh pihak keluarga. Namun, tidak sedikit korban COVID-19 juga dijauhi oleh Warga sekitarnya.

Ketidakpastian Penanganan COVID-19

Pihak Pemerintah dan aparat Keamanan terlihat mulai jenuh dan stress menghadapi COVID-19. Setelah 8 Bulan lebih tim Gugus Tugas COVID-19 yang kemudian berubah menjadi Satuan Tugas COVID-19 bekerja dalam melakukan sosialisasi dan seabrek kegiatannya. Kini menunjukan mulai longgar dalam pengawasan. Status New Normal atau Adaptasi Kebiasaan Baru, dimanfaatkan warga untuk tidak lagi diam di rumah, sehingga lupa untuk tidak berkerumun, bahkan tidak jaga jarak dan lupa pakai masker.

Rapat dan pertemuan, sudah dilakukan tatap muka walaupun masih banyak yang menggunakan virtual. Belajar sudah mulai tatap muka sebagian, sisanya masih virtual. Berniaga mulai banyak yang melakukan secara terbuka bahkan pasar tumpah dimana-mana. Bahkan sebentar lagi ada hajatan besar, Pilkada Serentak dan Pilkades Serentak.

COVID-19 telah menumbuhkan kejenuhan. Menumbuhkan ketidakpastian, Ketidakpastian dalam bidang regulasi yang berubah-ubah bahkan cenderung setelah berubah pun yang lama masih dijalankan dan ada standar ganda yang menumbuhkan ketidakadilan.

Ketidakpastian dalam bidang ekonomi, yang mengakibatkan Indonesia masuk ke dalam jurang resesi ekonomi. Ketidakpastian kapan belajar anak-anak akan dimulai secara tatap muka, karena beberapa kali diumumkan akan dilaksanakan tapi kemudian ditunda dan ditunda lagi.

Ketidakpastian dalam layanan kesehatan. Tes COVID-19 baik rapid maupun SWAB tidak dilakukan secara serentak karena keterbatasan alat dan tenaga. Sehingga pemetaan hanya dlakukan berdasarkan data yang terkonfrimasi bukan atas data sebaran yang mungkin terjadi, agar dapat dilakukan pencegahan.

Ketidakpastian dalam bidang keagamaan, dimana masih ada yang menjalankan ibadah secara bersama-sama namun kemudian sebagian dilarang karena takut terjadi penyebaran.

Ketidakpastian dalam bidang hiburan dan wisata, beberapa diantaranya masih belum bisa melakukan usaha karena tidak diizinkan, sedangkan sisanya bahkan yang tetap melakukan usaha karena memang tidak pernah berizin.

Masyarakat Apatis

Masyarakat sudah apatis. Sebagian sudah menyerah dengan menyebut bahwa meninggal itu urusan Takdir, urusan Allah. Tidak perlu ada COVID-COVIDan. Masyarakat melihat ketika Presiden melakukan pertemuan dengan banyak orang, Gubernur dan Bupati/Walikota juga sama. Sementara mereka dilarang berkerumun?

Masyarakat apatis ketika dilarang bepergian keluar kota, sementara pemerintah melakukan kunjungan kerja kemana-mana bahkan dengan mengumpulkan massa.

Masyarakat Apatis, karena Tindakan pengawasan yang tidak optimal, sehingga ketika sebagian orang yang melanggar protokol kesehatan kena tilang dan sebagian lainnya tidak kena tilang karena tidak ada penjagaan, menumbuhkan kesan hanya menggugurkan kewajiban.

Ini Bahaya.

Ketidakpastian itu harus di jawab. Jawab dengan kepastian. Pemerintah harus memastikan bahwa COVID-19 pasti akan berakhir. Belajar pasti akan tatap muka lagi. Rapat dan pertemuan pasti akan digelar lagi. Hiburan dan wisata pasti akan diizinkankan lagi. Ekonomi pasti akan pulih lagi. Hukum pasti akan ditegakan lagi untuk keadilan. Tidak ada lagi standar ganda.

Sambil menunggu kepastian, seperti halnya takdir Allah. Mati, Rezeki dan Jodoh. Semua orang pasti mati, Setiap orang pasti punya rezeki, dan setiap orang pasti punya jodoh. Satu, yang tidak pastinya, adalah waktu dan dengan siapa? Biarkan itu rahasiaNya.

Karena itu, penting untuk dilakukan adalah Percaya atau Iman. Iman adalah kata kunci dan menjadi pondasi bahwa dengan keimanan, maka kita akan menumbuhkan Imun. Imun yang baik akan membuat diri kita lebih kebal terhadap penyakit. Dan jika itu terjadi, Semoga semua kita menjadi Aman. Aamiin…!

Terima Kasih Untuk Berbagi Informasi, Silakan Klik Tombol di Bawah !
  • 39
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    39
    Shares