TiNewss.com

Berimbang Mengabarkan

Satpol PP: antara Arogansi dan ‘Humanis’-nya Kebijakan Negara Saat Pandemi

Dalam beberapa hari terakhir hingga kemarin, menjadi viral di media sosial kemudian ke media mainstream apa yang dilakukan oleh para pegawai Satuan Polisi Pamong Praja atau Satpol PP yang terjadi hampir merata di Tanah Air.

Terakhir adalah kejadian di Gowa, Sulawesi Selatan. Seorang perempuan hamil bersama suaminya menjadi korban kebrutalan petugas Satpol PP. Wanita hamil tersebut, mendapatkan pukulan cukup keras dari petugas, sehingga berakhir pelaporan ke Kepolisian. Menjadi naas, dan mendapat simpati netizen yang sangat luas, ketika wanita tersebut kemudian mengalami kontraksi di Kantor Polisi.

Kejadian ini menjadi trending di Twitter, dan banyak kejadian Satpol PP Indonesia masuk FYP di TikTok.

Apakah Satpol PP Arogan?

Dengan seragam mirip dengan polisi, tidak sedikit mereka merasa lebih gagah dibanding polisi atau tentara. Jangankan di dunia nyata, bahkan di dunia maya saja, ada oknum yang merasa paling benar menjalankan kebijakan, dibanding dengan yang lainnya.

Jika ada statemen yang memojokkan Satpol PP, pasti ada yang marah. Bahkan tanpa malu menyerangnya. Lihat saja di media sosial, FB, Tiktok, IG bahkan kini di Twitter.

Apakah semua petugas Satpol PP demikian? Tidak juga. Beberapa mampir di timeline, petugas Satpol PP mampir ke pedagang Kaki Lima, meminta mereka untuk berdagang tapi tidak makan ditempat. Bahkan sambil memberikan bingkisan. Bentuk humanis SatpolPP sebagai abdi masyarakat dapat terlihat di postingan @tinewssofficial pada media sosial TikTok.

Apakah Satpol PP selalu salah dan rakyat selalu benar. Nyatanya tidak juga. Sebagian masyarakat walau sudah di berikan imbauan, bahkan peringatan, sepertiya ngeyel.

Seperti kasus di Gowa, terlihat di cctv, petugas menghampiri wanita hamil (pengelola café), lalu kemudian seorang lelaki membawa hape dan merekam video. Petugas Satpol PP memintanya untuk tidak merekam kejadian itu, namun tidak diindahkan. Petugas kemudian mendorong pria (pengelola café), kemudian si istri mengambil kursi dan menyerang petugas. Tanpa ba bi bu, petugas melayangkan bogem mentah.

Atau yang di Sumatera Selatan, Komandan petugas PolPP sampai menendang barang dagangan karena kesal. Setelah diperingati dengan pengeras suara, tidak ada yang peduli. Akhirnya barang dagangan di lempar ke mobil patroli, pedagangnya juga dimaki.

Atau Humanis-nya Kebijakan Negara?

Yups, pandemi ini akal pangkalnya. Ini bisa jadi. Dengan pandemi, masyarakat diminta untuk diam di rumah. Stay Home. Dengan dalih untuk membatasi penyebaran COVID-19. Diminta jaga jarak, dan menghindari kerumunan. Hingga berjamaah di tempat ibadah pun tidak boleh, tapi kerumunan di Pasar tidak dibubarkan. Bahkan bergerombolnya TKA China yang datang ke bandara, menjadi kebijakan yang kontra produktif, hingga masyarakat tidak percaya dengan COVID-19.

Pandemi ya. Pasien di Rumah Sakit banyak yang tidak kebagian tempat, akhirnya meninggal. Tidak sedikit yang belum sempat ke Rumah Sakit, akhirnya tidak tertolong. Banyak orang yang kemudian kehilangan anggota keluarganya. Berita dan kabar harian, banyak di mulai dengan kata Inna Lillahi…

Namun, kebijakan pemerintah yang menyuruh masyarakat tidak bepergian. Tidak dibarengi dengan jaminan layak makan dan sehat. Yang sakit, tidak diberikan bantuan. Kalaupun ada, jumlahnya hanya sedikit. Bahkan hanya ada saat pejabatnya hadir. Seharusnya, menjadi sebuah kebijakan yang harus digulirkan. Siapapun yang sakit, berikan layanan.

Negara baru wacana memberikan bantuan, setelah warga menjalani PPKM Darurat –istilah halus lockdown– hampir 10 hari. Dan itu baru wacana. Dan itu juga, hanya bantuan untuk mereka yang masuk daftar orang miskin zaman dulu. Apakah pemerintah tidak tahu, bahwa hampir seluruh manusia kini ‘dimiskinkan’ oleh keadaan. 70 Persen orang, mengalami penurunan pendapatan. Bukan Gaji.

Jadi Kudu Piye?

Mungkin hanya Shalat dan Sabar, adalah kuncinya. Pemerintah, Shalatlah! SatpolPP Shalatlah! Warga Shalatlah! Shalat dengan benar, sebelum di Shalatkan. Pastikan setelah Shalat lakukan aktivitasmu untuk tetap dekat dengan Rabb-mu. Kedua Sabar. Sabar menghadapi pandemi, sabar menghadapi rakyatmu, sabar menghadapi arogansi, dan sabar menghadapi keadilan yang diperjuangkan.

Tentu, sikap Shalat dan sabar, harus pula di tindaklanjuti dengan pemikiran dan tindakan yang mengarah pada perbaikan. Buat kebijakan yang bukan manajemen pencet balon. Di pencet sebelah sini, kemudian menggelembung di sebelah sana. Duh…!!!***