Demokrasi Menyuburkan Penista Agama

- Senin, 5 Desember 2022 | 10:41 WIB
Budi Dalton, Budayawan Sunda yang memplesetkan Miras sebagai Minuman Rasulullah. Ia bersama Sule dan Mang Saswi dilaporkan ke Polda Metro Jaya atas dugaan penistaan Agama. Tampak dalam gambar, potongan dirinya saat sowan ke Ketua PWNU Jawa Barat . (Instagram@artgram)
Budi Dalton, Budayawan Sunda yang memplesetkan Miras sebagai Minuman Rasulullah. Ia bersama Sule dan Mang Saswi dilaporkan ke Polda Metro Jaya atas dugaan penistaan Agama. Tampak dalam gambar, potongan dirinya saat sowan ke Ketua PWNU Jawa Barat . (Instagram@artgram)

 

 

Lagi, penistaan agama kembali terjadi. Kali ini dilakukan oleh Budayawan Budi Dalton dengan candaan miras 'minuman Rasulullah', kemudian respons tertawa oleh komedian berinisial S dan aktor berinisial SW. Sungguh, lancangnya sikap mereka terhadap manusia mulia, Rasulullah saw.

Merespons video yang beredar, Syahrul Rizal, Ketua Aliansi Pencinta Rasulullah (AMPERA) melaporkan ketiganya ke Polda Metro Jaya. Pihak kepolisian telah menerima laporan tersebut dan terdaftar dengan No. STLP/B/5984/XI/2022/SPKT/POLDA METRO JAYA pada 23 November 2022.

Hati-hati Riddah

Sebagai umat yang beragama Islam memahami bahwa miras (khamar) adalah minuman yang Allah haramkan dan Dia menyifatinya sebagai perbuatan setan.

Minuman yang menyebabkan akal manusia tidak berfungsi maksimal bahkan menghantarkan pada perbuatan kriminal seperti mencuri, memerkosa membunuh, dan sebagainya.

Namun, sangat disayangkan ada orang yang mengaku muslim dengan entengnya mengucapkan miras 'minuman Rasulullah' meskipun hanya candaan. Sungguh tidak beradab apa yang mereka perbuat!

Menjaga lisan kepada Baginda Rasulullah saw. sangat penting, sekalipun mengungkapkan keadaan Rasulullah saat terluka dalam peperangan harus dengan ungkapan dan diksi sebaik mungkin dan sangat sopan.

Sebab, beliau adalah makhluk Allah yang agung sebagai pembawa risalah-Nya. Dengan dakwahnya, manusia terbebas dari belenggu kesesatan dan menghantarkan pada cahaya iman sehingga lahirlah peradaban mulia yang tidak ada tandingannya hingga detik ini.

Halaman:

Editor: Rauf Nuryama

Tags

Artikel Terkait

Terkini

3 Alasan Perlu Belajar Adab Dulu Sebelum Ilmu

Selasa, 20 Desember 2022 | 14:35 WIB

Liberalisme Biang HIV/AIDS Makin Menggurita

Senin, 12 Desember 2022 | 19:29 WIB

Impor Beras Teratasi dengan Ketahanan Pangan Islami

Sabtu, 10 Desember 2022 | 21:27 WIB

Demokrasi Menyuburkan Penista Agama

Senin, 5 Desember 2022 | 10:41 WIB

Puncak Hari Guru Nasional 2022, Guru di Era Kekinian

Kamis, 1 Desember 2022 | 06:45 WIB

SELINGKUH, Kunci Membahagiakan Diri

Selasa, 1 November 2022 | 07:39 WIB

Niru Siapa?

Kamis, 27 Oktober 2022 | 10:58 WIB

Menolak Kaya!

Kamis, 27 Oktober 2022 | 10:52 WIB

Mendidik, Tak Bisa Mendadak!

Kamis, 27 Oktober 2022 | 10:45 WIB

Mutu atau Mati, Lesti Memilih 'Mati'!

Kamis, 27 Oktober 2022 | 10:41 WIB

Momen Sejarah Penting Yang Menandai Fase Akhir Zaman

Senin, 10 Oktober 2022 | 05:49 WIB
X