• Kamis, 29 September 2022

Arteria Dahlan Sentil Keberagaman, Bahasa Sunda dalam Rapat Bukan Kesalahan Fatal

- Selasa, 18 Januari 2022 | 22:20 WIB
Dr. Asep Dadang Darmawan, Dewan Pakar Dewan Kebudayaan Sumedang (DKS).
Dr. Asep Dadang Darmawan, Dewan Pakar Dewan Kebudayaan Sumedang (DKS).

Kicauan Arteria Dahlan, Anggota Komisi III DPR RI yang meminta Jaksa Agung mengganti Kejati yang rapat menggunakan Bahasa Sunda, menuai kehebohan. Tak terkecuali Anggota DPR RI yang budayawan Sunda Dedi Mulyadi, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil dan banyak tokoh Jawa Barat memprotes apa yang disampaikan Arteria Dahlan.

Kicauan Arteri Dahlan telah melecehkan bahasa Sunda yang secara penduduk di Indonesia merupakan penduduk yang banyak. 

Dalam pandangan saya sebagai Dewan Pakar Dewan Kebudayaan Sumedang  apa yang disampaikan Arteria Dahlan telah mengusik keberagaman dan esksistensi orang Sunda. Memangnya kenapa orang Sunda sehingga harus disentil. Padahal orang Sunda juga telah banyak memberikan kontribusi bagi bangsa ini.

Keberagaman inilah yang telah membuat bangsa ini kokoh. Ada Sunda, ada Jawa, ada Maluku, ada Irian, ada Sumatra, dan lain-lain telah membentuk Indonesia menjadi sebuah kekuatan dan negara besar seperti saat ini. 

Baca Juga: Dalam Acara Inilah Arteria Dahlan Minta Kajati yang Bicara Bahasa Sunda Dipecat

Keberagaman telah disepakati dalam Sumpah Pemuda, Satu Bahasa yaitu Bahasa Indonesia. Tetapi ini bukan berarti bahwa Bahasa Sunda dan bahasa daerah yang lain jadi hilang. Bahwa perlu diketahui bahasa daerah justru akan memperkaya Bahasa Indonesia.

Dan menggunakan bahasa dalam rapat bukan merupakan kesalahan fatal yang membuat orang harus dipecat atau diganti. Penggunaan bahasa Sunda dalam rapat tidak menjadi masalah manakala para pihak memahami maksud apa yang disampaikan.

Jadi menggunakan bahasa Sunda bukan merupakan kesalahan fatal pegawai. Ini  sangat berlebihan manakala hanya menggunakan Bahasa Sunda, seorang Kejati harus diganti.

Menggunakan bahasa Sunda atau bahasa Daerah lain dalam rapat adalah hal biasa. Apalagi penggunaan bahasa Sunda atau bahasa Daerah lainnya hanya sebagian atau hanya istilah-istilah tertentu.

Halaman:

Editor: Asep D Darmawan

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Jenis Kelamin dan Kesuksesan

Selasa, 21 Juni 2022 | 06:55 WIB

Pasar Dgital, UMKM dan Kampung

Kamis, 3 Maret 2022 | 14:35 WIB

Belajar dari Perang Ukraina, Alutsista itu Penting

Minggu, 27 Februari 2022 | 05:45 WIB

Antara Petani, Padi dan Minyak Goreng

Sabtu, 5 Februari 2022 | 20:42 WIB

Halu dan Tikukur

Rabu, 1 Desember 2021 | 07:27 WIB

Pariwisata dan Parkir

Minggu, 21 November 2021 | 08:14 WIB

Nge-Branding itu Tidak Mudah, Kawan!

Sabtu, 6 November 2021 | 19:52 WIB

Normal atau Serasa Normal

Minggu, 3 Oktober 2021 | 20:47 WIB
X