• Sabtu, 22 Januari 2022

Cilor, PTM dan PTMT

- Jumat, 3 September 2021 | 07:00 WIB
f869a375-a820-4211-9cdc-581183fb2ea1
f869a375-a820-4211-9cdc-581183fb2ea1






Baru saja saya datang kerja dan siap-siap mau mandi, datanglah bungsuku dari masjid. Ia rajin sekali sholat Maghrib di masjid. Hampir tiap malam selalu ke Masjid.





Bahkan pernah mengingatkan saya bahwa kalau pulang kerja masih memungkinkan ke masjid, sholat magribnya di masjid. "Pah, kalau masih keburu sholat di Masjid ya, temeni Dede," ujarnya.





Terenyuh rasanya. Nyesek dada diingatkan anak bungsuku yang masih usia sekolah dasar. Tapi perjalanan yang panjang dan macet masih membuat pas-pasan datang ke rumah. Kadang datang mendekati sholat Isya.





Ya itu bukan alasan baik, memang. Ke depan harus diusahakan sholat Maghrib bersama dengan pemuda bungsuku ke masjid.





Ternyata, "nasehat" anak itu lebih mujarab, lebih jleb dibanding dikata-katain atau disuruh anak dewasa. "Nasehat" anak ini lebih merinding dan membuat malu diri. Masa anak bungsu yang mengajak ke masjid bukan malah sebaliknya, orang tua yang mengajak ke masjid. Tamparan keras untuk memperbaiki diri dan tidak mengutamakan dunia.





Ya itulah bungsu yang selalu rajin ke masjid, dan mengaji online tiap malam. Pandemi membuat metodologi belajar mengaji juga online.





Pemuda bungsuku di rumah, guru ngajinya beda kecamatan mengajarkan ngaji secara virtual. Dan hasilnya luar biasa. Perkembangan membaca Al Qur'an pemuda bungsuku makin bagus.





Tentu metode mengajar guru ini juga sangat mendukung. Pola belajar mengajarnya sangat baik dan membuat anak senang. Dan baru inilah guru ngaji online yang berhasil meluluhkan hati anak ini belajar mengaji online. Karena metode dan dedaktik metodiknya sangat pas dan baik.





"Pah keluarin jeep, dede mau jalan-jalan," katanya sambil meletakkan sajadah yang baru saja dipakai ke masjid.





"Dede mau jalan-jalan malam sama keluarga, tidak mau sama om," katanya.





Ya dengan bahasa yang menyentuh, membuat saya cepat-cepat mandi, sholat, mengaji dan makan. Lalu menuruti bungsuku untuk jalan-jalan mengitari kompleks menuju alun-alun.





Bahagia sekali tampaknya bungsuku ini jalan-jalan sore dengan bapaknya. Suasana yang sangat jarang dilakukan. Pertama karena pandemi dan yang kedua karena kerja yang membuat anak hanya ditemani uwa… Begitulah Kami menyebut Uwa Tuti yang sudah bekerja lebih dari 10 tahun.





Sore itu saya mengikuti keinginan anak bungsuku. Apapun yang diinginkan dituruti. Jalan mengitari alun-alun dan mencari makanan yang disukainya. Aku tawarkan apa saja yang dilihat. Tapi tiba-tiba bungsuku tertuju pada cilor.





Cilor adalah makanan yang terbuat dari aci dan telor yang digoreng digulung. Ini makanan pavorit anak-anak. Padahal dilihat dari minyak gorengnya saja sudah hitam pekat. Diragukan tingkat kesehatannya. Anak bungsuku tetap dengan pilihan cilornya, tapi saya menjelaskan bahwa minyak gorengnya kotor dan hitam pekat.





Akhirnya anak mengalah dan memilih makanan lain yang lebih sehat.





Kembali ke cilor. Kita sangat suka membuat kata-kata baru yang merupakan gabungan kata-kata atau singkatan. Sebut saja ada cilor, ada cilok, ada cireng, dan banyak lagi. Kita itu sangat kreatif. Kreativitasnya melebihi bangsa-bangsa lain di dunia.





Bahkan yang sekarang lagi booming adalah PTM dan PTMT. PTM kependekan dari pembelajaran tatap muka. Padahal sebelumnya kita sudah mengenal pembelajaran laring, eh sekarang diganti dengan PTM. Dan bahkan PTM punya turunan PTMT.





PTMT kependekan dari pembelajaran tatap muka terbatas. Entah apalagi anak dan cucu dari PTMT ke depan. Yang jelas kita sangat kreatif.





Tetapi hendaknya kreativitas tidak hanya sekedar nama dan istilah. Substansi pembelajaran lebih utama. Kita tertinggal selama hampir dua tahun karena pandemi.





Tingkat partisipasi pendidikan menurun, kualitas pendidikan menurun. Ini yang memerlukan startegi dan kreativitas untuk mendongkraknya.





Lompatan pencapaian peningkatan partisipasi pendidikan dan kualitas pendidikan memerlukan upaya serius. Metode dan model pembelajaran memerlukan modifikasi yang lebih cerdas dan humanis. Joyfull learning hendaknya menjadi acuan agar anak senang belajar. Ya seperti guru mengaji online bungsuku yang mengajar dengan metode yang tepat agar proses belajar mengajarnya efektif efisien. Tidak seperti cilor yang minyaknya hitam pekat bukan malah mengenyangkan tapi malah menyakitkan. Salam!!!


Halaman:
1
2
3
4
5

Editor: Asep D Darmawan

Tags

Terkini

Halu dan Tikukur

Rabu, 1 Desember 2021 | 07:27 WIB

Pariwisata dan Parkir

Minggu, 21 November 2021 | 08:14 WIB

Nge-Branding itu Tidak Mudah, Kawan!

Sabtu, 6 November 2021 | 19:52 WIB

Normal atau Serasa Normal

Minggu, 3 Oktober 2021 | 20:47 WIB

Perubahan Warisan Budaya Jatigede

Sabtu, 25 September 2021 | 15:54 WIB

Kekuatan Imajinasi

Selasa, 21 September 2021 | 07:26 WIB

Tol teh Ibarat Telepon, Panyambung jeung Pamisah

Senin, 20 September 2021 | 07:35 WIB

Imajinasi, Pengetahuan dan Pencapaian

Minggu, 19 September 2021 | 09:08 WIB

Sistem Giliran Ojek Pangkalan dalam Organisasi

Selasa, 14 September 2021 | 07:06 WIB

Cilor, PTM dan PTMT

Jumat, 3 September 2021 | 07:00 WIB

Banjir dan Kemandirian

Kamis, 2 September 2021 | 07:00 WIB

Tunggul Hideung dan Mimpi

Rabu, 1 September 2021 | 08:26 WIB

Sumedang Pasti Bisa, Manajemen Sentuhan Hati

Sabtu, 28 Agustus 2021 | 05:00 WIB

Waspada!

Kamis, 26 Agustus 2021 | 07:00 WIB

PPKM versus Merdeka

Selasa, 24 Agustus 2021 | 06:52 WIB
X