• Sabtu, 2 Juli 2022

Ada Tiga Kelompok Manusia dalam Menyikapi Akhir Zaman (bagian ke-3)

- Minggu, 13 Februari 2022 | 06:00 WIB
Kosmologi Islam oleh Drs. H. Maman Supriatman, M.Pd:  Kosmologi Islam  : Yerusalem dalam Al Qur'an, Kunci untuk Memahami Dunia Modern (Bagian ke-18) (TiNewss/Rauf)
Kosmologi Islam oleh Drs. H. Maman Supriatman, M.Pd: Kosmologi Islam : Yerusalem dalam Al Qur'an, Kunci untuk Memahami Dunia Modern (Bagian ke-18) (TiNewss/Rauf)

Sebenarnya banyak sabda Nabi SAW tentang dekatnya kiamat yang memiliki makna peringatan, agar setiap muslim menjauhi perkara itu semampunya, dan bukan menganggapnya sebagai sesuatu yang lazim dan biasa saja.

Misalnya, hadits tentang permusuhan kaum Yahudi terhadap kaum muslimin, dimana Rasulullah SAW menyebutkan bahwa kiamat tidak akan terjadi hingga kaum muslimin memerangi kaum Yahudi. 

Hadis ini mengandung pesan tentang pastinya kaum muslimin akan memerangi Yahudi. Maka merupakan sebuah tindakan konyol jika seorang muslim membenarkan logika berdamai dengan kelompok Yahudi. 

Hadits-hadits seperti ini itu, yang lebih mudah bisa memahaminya adalah mereka yang hidup bersamanya. Contohnya, saudara-saudara kita muslimin di Palestina. 

Terhadap hadits seperti ini, mereka tidak perlu lagi berdebat, karena setiap hari mereka merasakan bahwa memang permusuhan kaum Yahudi itu adalah nyata, sehingga bagi mereka ibaratnya tinggal menunggu jadwal saja kapan terjadinya hari dimana hadits ini akan menjadi kenyataan. 

Bagi kita yang tinggal jauh dari Palestina, tidak perlu mengalami untuk bisa menghayati, karena cukup diwakili oleh mereka yang sedang mengalami saat ini, karena kita berada di zaman yang sama dengan mereka. 

Jadi kelompok pertama kategori ketiga ini mereka beriman kepada Nubuwwah Rasul SAW, tetapi nash-nash itu seolah-olah tidak menyala, tidak aktif dan tidak dikaitkan dengan aktualisasi zaman. 

b. Mereka yang menerima nash-nash tersebut dengan penuh keyakinan, namun bersikap melampaui batas dalam menerjemahkan sekaligus mengaktualisasikan nya.

Kelompok ini menjadikan hadits-hadits dhaif, lemah bahkan maudhu' atau malah hadits palsu, sebagai hujjah untuk mendukung pemikiran mereka, bahkan sebagian ada yang memaksakan nash-nash tersebut untuk mendukung kelompoknya, demi menjatuhkan lawan politiknya.

Halaman:

Editor: Asep D Darmawan

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Al Quran dan Perang Besar (Bagian ke 1)

Jumat, 18 Februari 2022 | 22:19 WIB

Problem Utama Umat Islam Saat Ini, Ini Solusinya!

Rabu, 9 Februari 2022 | 07:07 WIB

Sejarah akan Berakhir sebagaimana Sejarah Berawal

Jumat, 4 Februari 2022 | 07:21 WIB
X