• Minggu, 27 November 2022

Sejarah akan Berakhir sebagaimana Sejarah Berawal

- Jumat, 4 Februari 2022 | 07:21 WIB
Kosmologi Islam oleh Drs. H. Maman Supriatman, M.Pd:  Kosmologi Islam  : Yerusalem dalam Al Qur'an, Kunci untuk Memahami Dunia Modern (Bagian ke-18) (TiNewss/Rauf)
Kosmologi Islam oleh Drs. H. Maman Supriatman, M.Pd: Kosmologi Islam : Yerusalem dalam Al Qur'an, Kunci untuk Memahami Dunia Modern (Bagian ke-18) (TiNewss/Rauf)
Eskatologi Islam_
 
“Sungguh telah datang dari Tuhanmu bukti-bukti yang terang; barang siapa yang dapat melihat (dan mengenali Kebenaran itu), maka (manfaatnya) untuk jiwanya sendiri, dan barang siapa yang buta (tidak melihat Kebenaran itu), maka kemudaratannya kembali kepadanya. Dan aku sekali-kali bukanlah pemelihara(mu).”
(QS. al-An'am: 104).
 
Halaman pertama paragraf pertama sejarah peradaban umat manusia bermula dari penolakan Iblis atas perintah Allah untuk bersujud kepada Adam AS. Penolakan Iblis ini disebabkan kesombongannya bahwa dia lebih baik daripada Adam. 
 
Setelah itu, Iblis memainkan peran abadinya menggoda dan menjerumuskan Adam dan keturunannya hingga menjelang kiamat. 
 
 
Ketika Nabi Adam AS dan Siti Hawa akhirnya terbujuk rayuan Iblis, maka paragraf kedua halaman pertama sejarah dimulai. 
 
Halaman kedua paragraf pertama sejarah dimulai sejak Adam dan Hawa dikeluarkan dari Surga dan diturunkan ke Bumi. Setelah itu dimulailah paragraf dan halaman-halaman sejarah berikutnya sampai sejarah berakhir
 
Jadi sejarah peradaban manusia berawal dari kesombongan.
 
Sejarah Tidak Akan Berakhir Sebelum Kesombongan di Muka Bumi Berakhir
 
Berakhirnya sejarah adalah sesuatu yang 100 % pasti. Tapi tentang waktunya bahkan Nabi SAW sendiri tidak mengetahuinya. Namun beliau mengetahui tanda-tandanya. 
 
Bila berakhirnya sejarah adalah peristiwa yang sangat penting, maka tanda-tanda akan berakhirnya sejarah, tentu juga merupakan sesuatu yang sangat penting. 
 
 
Bila Alquran menjelaskan segala sesuatu, dan tidak ada lagi yang tidak tercakup oleh "segala sesuatu", dan bila tanda-tanda akan berakhirnya sejarah adalah sesuatu yang sangat penting, maka sudah pasti Alquran memilki penjelasan tentang bagaimana sejarah akan berakhir. 
 
Fakta bahwa mereka berbondong-bondong menanam Pohon Gharqad, dan memasukkan "Hadits Pohon Gharqad" dalam kurikulumnya, menandakan bahwa mereka percaya pada Hadits yang mengandung _Nubuwwah_ tentang akhir takdirnya yang tragis di balik Pohon Gharqad.
 
Bila turunnya kembali Nabi Isa AS kelak adalah peristiwa paling penting dalam sejarah umat manusia, lebih penting dari diutusnya Imam Mahdi, maka kita dapat menambahkan bahwa "Tragedi Pohon Gharqad" adalah peristiwa penting kedua setelahnya, karena turunnya kembali Nabi Isa AS, diutusnya Imam Mahdi, dan munculnya Dajjal adalah satu paket. 
 
Hal ini karena Pohon Gharqad adalah simbol berakhirnya fase Pax Judaica, yang berarti menandai berakhirnya fase keempat menuju fase kelima dan terakhir, dalam Nubuwwah tentang ringkasan sejarah umat Islam. 
 
 
Bila PD I dan PD II adalah masa transisi antara fase Pax Britannica menuju Pax Americana, dan bila tragedi 9/11/01 adalah awal dari masa transisi dari Pax Americana menuju Pax Judaica, maka saat ini kita sedang berada pada masa transisi. 
 
Bila PD I berlangsung antara tahun 1914-1918 dan PD II terjadi pada tahun 1939-1945, maka masa transisi dari Pax Britannica (fase 1) ke Pax Americana (fase 2), berlangsung selama 31 tahun. Bila tragedi 9/11 adalah awal masa transisi dari fase 2 menuju fase 3 (Pax Judaica), maka masa transisi itu telah berlangsung selama lebih dari 20 tahun. 
 
Bila fase 1 diungkapkan dalam sebuah Hadits sebagai "sehari seperti setahun", dan fase 2 digambarkan sebagai "sehari seperti sebulan", maka berarti masa transisi saat ini akan lebih singkat daripada masa transisi sebelumnya.
 
Masa transisi dari fase 1 adalah untuk memberi jalan bagi fase 2, sedangkan masa transisi dari fase 2 adalah untuk memberi jalan bagi fase 3. Bila "Tragedi Pohon Gharqad" adalah akhir dari fase 3, artinya Pax Judaica akan berakhir di balik Pohon Gharqad. Inilah takdir akhir zionisme. 
 
 
Bila fase kedua digambarkan sebagai "sehari seperti sebulan", dan fase ketiga digambarkan sebagai "sehari seperti seminggu", maka fase terakhir ini akan berlangsung lebih singkat daripada sebelumnya. 
 
Apa yang terjadi setelah itu adalah _Nubuwwah_ tentang peradaban terakhir sebelum sejarah berakhir, yaitu fase kelima dan terakhir dalam perjalanan sejarah umat Islam. Pax Judaica akan berakhir untuk memberi jalan bagi Pax Islamica. 
 
Sebuah rangkaian peristiwa sejarah yang panjang. Tetapi Allah Maha Mengetahui hanya butuh satu kalimat yang sangat pendek untuk mengungkapkan peristiwa yang bahkan telah berlangsung selama ribuan tahun yang lalu, jauh sebelum fase Pax Britannica, hingga menjelang berakhirnya sejarah kelak:
 
وَاِ نْ عُدْتُّمْ عُدْنَا ۘ 
 
"...jika kamu kembali (melakukan kejahatan), niscaya Kami kembali (mengazabmu)..."
(QS. Al-Isra': 8).
 
Kalimat pendek ini mengisyaratkan takdir sejarah kaum zionis, yang bukan saja menggambarkan apa yang telah terjadi sejak ribuan tahun yang lalu, yakni sejak mereka diusir dari Tanah Suci dua ribu tahun yang lalu, sampai hari ini, tetapi juga tentang mengapa dan bagaimana mereka kelak akan dihancurkan.
 
Ironisnya, pada zaman ini, sudah sulit menemukan di dunia Islam, para Sarjana yang mampu menyediakan petunjuk yang benar atas subjek ini. Semakin sulit kita menemukan mereka yang masih mengajarkan Hadits-hadits yang mengandung _Nubuwwah_. Padahal takdir Yerusalem memberikan kepercayaan diri dan harapan besar kepada umat Muslim bahwa kebenaran dan keadilan pada akhirnya pasti akan menang melawan kebatilan dan penindasan.
 
 
Jika setiap Yahudi dapat meninggalkan AS, Eropa, Rusia dan dari mana pun untuk bergabung dengan pasukan Pertahanan Israel dan ikut serta
dalam penindasan bersenjata terhadap warga Muslim dan Kristen Palestina di Tanah Suci, maka setiap Muslim pun seharusnya memiliki kebebasan yang sama untuk pergi dari mana pun dia tinggal di dunia, dan bergabung untuk membela yang tertindas di Tanah Suci. 
 
Hal itu merupakan suatu bentuk manifestasi keimanan yang nyata pada zaman ini, bahwa setidaknya umat
Muslim memiliki keinginan dalam hati untuk berpartisipasi di Tanah Suci. Dari Yerusalem fase keempat dalam sejarah umat Islam akan diakhiri, dan dari Yerusalem pula fase kelima dan terakhir akan dimulai. 
 
Hanya di Tanah Suci ini dan hanya dalam momen ini peluang itu tersedia. Sebuah peluang yang tampaknya sengaja Allah sediakan sebagai ladang amal paling besar dan paling mulia di akhir zaman, karena setelah ini tidak ada lagi konflik dan peperangan di muka bumi. Setelah ini sejarah akan memulai babak baru dan terakhir yang penuh kesejahteraan, keadilan dan keamanan, sebelum sejarah berakhir.
 
Ini adalah klaim Islam yang syah dan adil, karena kaum Yahudi dan Nasrani juga memiliki klaim yang sama. Ketiga agama Ibrahim ini bertemu pada subjek yang sama, yaitu klaim atas kembalinya zaman keemasan. Tetapi subjek ini pula yang membedakan antara pandangan dunia Islam dengan pandangan hidup lainnya, khususnya dengan kosmologi Yahudi dan Nasrani.
 
 
Orang-orang Euro-Amerika Yahud-Nasrani telah melahirkan zionisme, berdirinya Negara Israel, kembalinya umat Yahudi ke Tanah Suci, menguasai peradaban modern, selalu melakukan _fasad_ (kerusakan) di muka bumi, telah melahirkan dua Perang Dunia, dan kini tengah menyeret dunia pada ambang perang besar berikutnya. 
 
Semuanya bersumber dari kesombongan bahwa mereka adalah satu-satunya umat pilihan Tuhan sehingga sangat terobsesi atas Tanah Suci yang dijanjikan untuk menguasai dunia dari Yerusalem. 
 
Sebagaimana lembaran sejarah dimulai dari kesombongan, demikian pula lembaran sejarah akan berakhir hanya setelah kesombongan dilenyapkan dari muka bumi. Sejarah tidak akan berakhir sebelum kesombongan kaum zionis berakhir.
 
Rujukan
 
 
 
 

Editor: Asep D Darmawan

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Masuk Islam Karena Jasad Fir'aun, Kisah Inspiratif

Minggu, 27 November 2022 | 05:00 WIB

Inilah Tata Cara Melakukan Salat Gaib

Sabtu, 26 November 2022 | 14:26 WIB
X