• Rabu, 26 Januari 2022

Pahlawan Nasional Cut Nyak Din Dalam Pengasingan

- Senin, 8 November 2021 | 23:45 WIB
Makam Cut Nyak Din di Gunung Puyuh Sumedang (TiNewss/Nunung Julaeha)
Makam Cut Nyak Din di Gunung Puyuh Sumedang (TiNewss/Nunung Julaeha)

Sebagai pahlawan nasional, nama Cut Nyak Din sangat tidak asing. Nama dan sejarah perjuangannya serta kegigihannya dalam berperang menghadapi Belanda menjadi materi pokok dalam mata pelajaran sejarah Indonesia di tingkat persekolahan. Perang Aceh yang pada awalnya dipimpin Teuku Umar, akhirnya dilanjutkan oleh Cut Nyak Din, karena Teuku Umar gugur dalam perang sabil menghadapi orang-orang kaphe. Perjuangan Cut Nyak Din tidak kalah hebat dengan suaminya, akhirnya melanjutkan perjuangan dengan berperang melawan Belanda, walaupun pada akhirnya Belanda berhasil menangkapnya kemudian diasingkan ke Sumedang.

Setelah diasingkan ke Sumedang pada tanggal 11 Desember 1906, tidak banyak sumber terkait aktifitas Cut Nyak Din selama masa pembuangan. Salah satu buku karya M.H Szekely berjudul Cut Nyak Din Kisah Ratu Perang Aceh, menulis dihalaman terakhirnya Cut Nyak Din berdiam di Sumedang sampai ajal menjemputnya. Begitupun berbagai buku teks sejarah hanya menyebutkan dengan tulisan yang sama.

Di samping itu Sumedang sebagai daerah pilihan lokasi pembuangan menjadi sangat menarik. Sebagai lokasi pembuangan seorang pejuang besar dari Aceh tentu bukan tanpa alasan dan perhitungan begitupun dengan sosok pemimpin yang berkuasa pada saat itu di Kabupaten Sumedang.

 

Baca Juga: 10 Nama-nama Pahlawan Nasional yang Berasal dari Jawa Barat, 1 Diantaranya Perempuan

 

Jejak sejarah yang berhubungan dengan Cut Nyak Din pada masa pembuangan di Sumedang, selain makam Cut Nyak Din itu sendiri yang berlokasi di komplek pemakaman Gunung Puyuh, adalah rumah panggung bekas tempat tinggal Cut Nyak Din yang berlokasi di daerah Kaum di sebelah Barat Mesjid Agung Sumedang. Kaum sendiri adalah sebutan yang secara umum ditemukan bagi penduduk yang bertempat tinggal di sekitar Mesjid Agung serta memiliki hubungan kekerabatan dengan keluarga penguasa.

Jejak Cut Nyak Din selama dalam pengasingan kurang lebih 2 tahun sejatinya menjadi materi yang penting dan teramat berharga khususnya bagi masyarakat lokal, umumnya bagi perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Lebih utama lagi setiap memperingati Hari Pahlawan 10 Nopember, sepatutnya kita kembali mengingatkan perjuangan para pahlawan, memaknai arti perjuangan serta mampu mengimplementasikan nilai-nilai kejuangan dari berbagai peristiwa sejarah agar bisa digunakan dalam rangka pembentukan karakter dan jati diri bangsa.

Pengasingan yang dilakukan Belanda, merupakan salah satu upaya untuk meredam gejolak yang terjadi di sebuah daerah karena sifat perjuangan sampai akhir abad ke 19 masih memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap para pemimpinnya. Menurut pandangan Belanda Cut Nyak Din adalah pemberontak yang akan membahayakan upaya Belanda dalam menaklukan Aceh yang hampir selesai.

Halaman:

Editor: Rauf Nuryama

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Ibu Kota Nusantara jeung Pemulihan Ekonomi Nasional

Minggu, 23 Januari 2022 | 20:06 WIB

Peran E-WOM Dalam Menumbuhkan Minat Berwisata

Kamis, 30 Desember 2021 | 19:37 WIB

Pernikahan Anak Dalam Perspektif Islam

Kamis, 30 Desember 2021 | 13:39 WIB
X