Home NEWS Sumedang News Mengenang 100 Tahun Wafatnya Pangeran Mekkah Pangeran Aria Soeria Atmadja, “Bupati Sumedang...

Mengenang 100 Tahun Wafatnya Pangeran Mekkah Pangeran Aria Soeria Atmadja, “Bupati Sumedang 1883-1919”

0
92
Foto Pangeran Aria Soeria Atmadja/ Karaton Sumedang Larang

TiNewss.com – Tepat seratus tahun Pangeran Aria Soeria Atmadja (Bupati Sumedang periode 1883 – 1919) wafat pada tanggal 1 Juni 1921 dan dimakamkan di Mekah saat menunaikan ibadah haji.

Dengan wafatnya ketika menunaikan ibadah haji sehingga beliau terkenal dengan nama pangeran Mekah dan pada saat itu pemakamannya, Pemerintah Kerajaan Arab Saudi melakukan penghormatan secara Upacara Militer.

Selain itu, untuk menghormati jasa-jasanya didirikan sebuah monumen Lingga di tengah alun-alun Sumedang yang diresmikan langsung oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda D. Fock pada 22 April 1922.

Foto Pangeran Aria Soeria Atmadja Bersama Keluarga Di Sumedang 1889

Pangeran Aria Soeria Atmadja atau Pangeran Mekkah merupakan Bupati Sumedang ke-20. Setelah Pangeran Suria Kusumah Adinata wafat, beliau digantikan oleh putranya yang bernama Raden Sadeli.

Raden Sadeli dilahirkan di Sumedang pada tanggal 11 Januari 1851. Sebelum menjadi bupati Sumedang, Raden Sadeli adalah Patih Afdeling Sukapura Kolot di Mangunreja.

Pada tanggal 31 Januari 1883 diangkat menjadi bupati Sumedang dengan memakai gelar Pangeran Aria Suria Atmadja (1883 – 1919).

Pangeran Soeria Atmadja adalah Bupati Sumedang terakhir yang mendapat gelar Pangeran, sehingga disebut pangeran panungtung (Terakhir).

Pangeran Aria Soeria Atmadja merupakan pemimpin yang adil, bijaksana, saleh dan taqwa kepada Allah. Raut mukanya tenang dan agung, memiliki disiplin pribadi yang tinggi dan ketat.

Foto Peresmian Lingga Mengenang Pangeran Aria Soeri Atmadja Oleh Gubernur Hindia Belanda Mr. D. Fock tahun 1922.

Bahkan diceritakan dalam Sri Poestaka halaman 135 menceritakan waktu dibukanya “Lingga Pangeran Aria Soeria Atmadja Marhoem” oleh tuan besar G.G Mr. D Fock’s menyebutkan bahwa Pangeran Aria Soeria Atmadja yaitu “Pangeran Sampoerna”, tulisan tuan H. de Bie, Inspekteur Landbouw Marhoem, mitra Pangeran.

Pangeran Aria Soeria Atmadja pada usia 8 tahun sudah mulai menerima pendidikan sekolah sambil mengaji kitab suci Islam yaitu Al-Quran.

Sedangkan pada usia 14 tahun mulai beliau belajar magang, sambil belajar bahasa Belanda, bahkan bahasa Inggris dan Prancis.

Sejak masa kecil, Pangeran Aria Soeria Atmadja sudah nampak memiliki karakter terpuji. Suka menepati janji, rajin, cerdas, aktif dan penuh inisiatif.

Sehingga pada usia 18 Tahun beliau memulai karier pekerjaannya, dimulai sejak diangkat sebagai KALIWON sejak 1 Agustus 1869 di Sumedang dan diangkat menjadi Wedana Ciawi pada tanggal 7 Pebruari 1971.

Sedangkan pada tanggal 29 November 1875 beliau diangkat sebagai Patih Afdeling Sukapura kolot di Mangunreja dan pada akhirnya dalam usia 32 tahun beliau diangkat menjadi bupati pada tanggal 30 Desember 1882 dan dilantik 31 Januari 1883.

Foto Pertemuan Gubernur Hindia Belanda Mr. D. Fork dan Pangeran Aria Soeria Atmadja

Pangeran Aria Soeria Atmadja dalam kepemimpinannya sering sekali mewakafkan tanah untuk kegunaan keagamaan dan kesejahteraan rakyat Sumedang.

Diantara sekian banyaknya wakaf beliau, adalah Sekolah Pertanian di Tanjungsari, dahulu namannya Landbouwshool, luasnya kira-kira 6 (enam) bau.

Tanah seluas itu, dibeli dengan uang beliau seharga f.3.000,-, demikian pula dengan pembangunan sekolah, didirikan atas biaya pribadi beliau sendiri. Guru sekolah pertanian yang pertama ialah R. Sadikin. Sekolah Pertanian di Tanjungsari ini menjadi kebanggaan masyarakat di Jawa Barat.

Sudah merasa tua, Pangeran Aria Soeria Atmadja meminta turun dari jabatannya dari jabatannya sebagai Adipati / Bupati Kabupaten Sumedang pada tanggal 17 Maret 1919.

Beliau turun dari jabatannya diijinkan oleh Pemerintah Belanda serta dipensiunkan oleh Gubernur Belanda lalu dipindah dari kabupaten, bumen-bumen (tinggal) di Sindangtaman (yang mana tanah tersebut tanah keluarga Rd. Entjoh Soerialaga, wafat selasa 1 November 1921) .

Foto Pangeran Aria Soeria Atmadja “Bupati Sumedang 1883 – 1919”

Selang 2 tahun tinggal di Sindangtaman, Pangeran Aria Soeria Atmadja pada tanggal 21 Maret tahun 1921 (15 Rewah 1339), berangkat menunaikan rukun Islam ke 5, beliau berangkat menunaikan ibadah Haji.

Pada saat itu pula, setelah melaksanakan ibadah Haji, Pangeran Aria Soeria Atmadja wafat, begitu juga isterinya dan pengiring badal-nya juga meninggal di tanah Mekah, tidak kembali lagi ke Sumedang, sempurna meninggal di tanah Suci Mekah.

Sepeninggal Pangeran Aria Soeria Atmadja, Sumedang dipimpin oleh adiknya beliau yang semula Wedana Plumbon yaitu Raden Koesoemadilaga menjadi Bupati Sumedang pada 17 Maret 1919. (Adhi SH)***

Sumber : http://dediekisoerialaga.blogspot.com/2018/09/pangeran-suria-atmadja-pangeran-mekah.html?m=1