Magrib Mengaji Online ala Bupati Sumedang

Sore itu menjelang Magrib, saya dan adik saya berangkat mengaji ke Eureunsari (sekarang berganti nama jadi Gandasari). Perjalanan sekira setengah kilometer dari rumah menyusuri jalan besar. Di mesjid tentu sudah banyak anak-anak seusia yang siap belajar mengaji selepas melaksanakan sholat magrib berjamaah.

Kang Sumpena, Kami biasa memanggil, merupakan ustad dari kampung Babakan yang terkenal nyantri di desa Kirisik. Kang Sumpena yang pindah ke Gandasari ini selalu mengajar ngaji ke anak-anak. Walau kelihatan letih karena seharian bekerja karena punya mesin penggilingan padi, tidak menyurutkan niatnya dan kerja kerasnya untuk mengajar mengaji.

Satu persatu anak-anak santri kalong ini belajar mengaji Al Qur’an. Dengan telaten dan tekun, ditemani lampu listrik yang temaram, Kang Pena mengajar mengaji. Anak-anak juga antusias belajarnya. Walau hanya satu atau dua ayat. Sehabis sholat Isya, tentu saya dan adik pulang ke rumah dengan berbekal lampu senter. Anak-anak kecil ini berjalan di kegelapan malam. Terbayang kalau ada orang jahat. Untung waktu itu keadaan aman dan tentram.

Selain Kang Sumpena, sempat pula sekolah Agama di mesjid Kampung Paseh. Sekolah agama dilakukan setelah sore hari. Pa Ustad Atik yang sengaja datang selalu mengajar anak-anak dengan rajin.

Perjalanan yang jauh dari rumahnya ke mesjid tempat Pa Ustad Atik mengajar, dan dengan jalan kaki serta melewati sawah, tidak menyurutkannya untuk selalu hadir mengajar mengaji. Padahal tidak ada honor mengajar mengaji. Dan tentu ini dilakukan selepas pa Ustad mengajar di sekolah sebagai Guru PNS.

Sehabis Pa Ustad Atik, digantikan oleh ustad baru yang masih keluarganya, Ustad Ede. Rumahnya jauh di pojok kampung, tapi santri kalongnya sangat banyak. Ustad Ede juga tidak kelihatan letih yang selalu menyempatkan mengajar mengaji. Padahal sehari-harinya bekerja yang sangat super sibuk. Di ustad Ede ini, santri-santri juga diajarkan kitab-kitab kuning atau belajar memahami Al Qur’an atau hadist.

Dari cerita tadi, ada dua hal yang saya garis bawahi. Pertama, suasana mengaji bagi anak-anak waktu itu merupakan kegiatan yang menyenangkan. Banyak pelajaran berharga yang diperoleh. Bukan hanya sisi keilmuan agamanya saja melainkan sosialisasi antar anak yang baik. Pada situasi seperti ini, semangat anak untuk belajar mengaji sangat besar, orang tua juga memiliki semangat tinggi agar anaknya belajar mengaji. Di proses ini juga secara alamiah belajar menghargai guru. Sampai saat ini, hormat ke guru atau guru mengaji masih terasa.

Kedua, dedikasi ustad atau guru mengaji sangat luar biasa. Padahal tidak ada honor dan tentu pekerjaan yang melelahkan secara logika karena siangnya sudah bekerja. Tetapi etos kerja ustad dan guru mengaji ini luar biasa.

Dalam era kekinian, mengaji menjadi barang langka. Maka Pemerintah Kabupaten Sumedang dibawah kepemimpinan Bupati Dony Ahmad Munir dan Erwan Setiawan mengusung program Magrib Mengaji.

Penurunan atau degradasi kualitas dan kuantitas mengaji terutama pada saat setelah Magrib menjadi dasar kegiatan Magrib Mengaji.

Transformasi Magrib Mengaji dari offline atau tatap muka antara guru mengaji dan santri, dilakukan Bupati Sumedang melalui Magrib Mengaji Online yang dimulai tanggal 1 Agustus 2020 dan grand launching pada tanggal 20 Agustus 2020 oleh Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil.

Pada Magrib Mengaji Online ala Bupati Dony, Bupati berubah menjadi guru mengaji yang sangat fasih dalam tajwid dan makhroj. Layaknya guru mengaji di surau-surau dan mesjid-mesjid, Bupati memulai dengan membaca dan menjelaskan dengan sangat lancar di akun instagramnya.

Bagi orang yang nyinyir, ini adalah pekerjaan sia-sia, sangat salah. Karena banyak orang yang mengapresiasi kegiatan ini. Kegiatan ini sesungguhnya, apa yang dilakukan Bupati Dony adalah sebuah pembelajaran yang berharga bahwa nilai-nilai keislaman melalui mengaji adalah sangat penting. Nilai-nilai sosial, sikap menghormati guru mengaji, semangat mengaji, semangat mengajar mengaji harus tertanam dalam semua jiwa kita.

Saya meyakini bahwa Bupati bukan sepi pekerjaan dan mencari-cari pekerjaan. Tetapi Bupati sedang mengajarkan agar kebiasaan dulu tentang selepas Magrib adalah mengaji, harus dilaksanakan lagi. Harus digaungkan, harus menjadi kebiasaan lagi ditengah tengah budaya yang kian mengikis nilai-nilai agama dan moral.

Tentu kegiatan Magrib Mengaji memerlukan beberapa catatan tambahan agar esensi dan maknanya makin terasa. Pertama, peserta magrib mengaji tidak di segmentasi lebih besar pada orang tua semata, justru segmentasi anak sekolah dasar dan sekolah menengah yang seharusnya menjadi target. Karena usia inilah yang memerlukan pembekalan dalam mengaji Al Qur’an.

Kedua, program internet gratis di setiap wilayah tampaknya harus ditingkatkan dan terasa adanya, sehingga program Magrib Mengaji Online bisa diikuti dengan baik oleh setiap masyarakat di Kab. Sumedang dan tentunya dengan gratis.

Ketiga, perkuat kapasitas internetnya agar dalam pelaksanaannya tidak putus-putus. Keempat, sosialisasi yang terus menerus agar setiap warga mengetahui adanya Magrib Mengaji Online.

Kelima, niatkan bahwa mengajar mengaji online dan belajar mengaji online adalah ikhlas karena Alloh SWT. Hilangkan niat lain selain karena Alloh SWT. Agar tujuan hakiki dari Magrib Mengaji Online adalah ridho Alloh SWT dengan derajat tertinggi di mata Alloh SWT, bisa tercapai.

Dan pada akhirnya kita berharap Magrib Mengaji Online setidaknya akan membantu menggantikan Magrib Mengaji di kampung-kampung model doeleo. Mari ambil sisi positifnya, dan semoga menjadi ladang amal untuk kita semua. Aamiin YRA.*

Terima Kasih Untuk Berbagi Informasi, Silakan Klik Tombol di Bawah !
  • 12
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    12
    Shares
%d blogger menyukai ini: