• Selasa, 24 Mei 2022

Yerusalem dalam Al Qur'an, Kunci untuk Memahami Dunia Modern (Bagian ke-3)

- Jumat, 24 Desember 2021 | 06:45 WIB
Maman Supriatman, Penulis Buku Kosmologi Islam. (TiNewss)
Maman Supriatman, Penulis Buku Kosmologi Islam. (TiNewss)
 
Eskatologi Islam
 
 
“Sungguh telah datang dari Tuhanmu bukti-bukti yang terang; barang siapa yang dapat melihat (dan mengenali Kebenaran itu), maka (manfaatnya) untuk jiwanya sendiri, dan barang siapa yang buta (tidak melihat Kebenaran itu), maka kemudaratannya kembali kepadanya. Dan aku sekali-kali bukanlah pemelihara(mu).”
(QS. al-An'am: 104). 
 
 
Strategi Yahudi
 
Jika Alquran menjelaskan segala sesuatu, dan tidak ada lagi yang tidak tercakup oleh "segala sesuatu", maka mestinya Alquran memiliki penjelasan tentang kembalinya bangsa Yahudi ke Yerusalem, setelah lebih dari dua ribu tahun berdiaspora.
 
 
Bagaimanakah hal itu bisa terjadi? 
 
Salah satu strategi Yahudi Zionis adalah mengendalikan wilayah strategis di sekitar Israel melalui kerjasama dengan penguasa elit yang sekarang menguasai komunitas Muslim Arab di sekitar Israel dan membela kepentingan Israel.
 
Kalangan penguasa elit tersebut dipaksa untuk memelihara hubungan persahabatan dengan Israel demi menjaga posisi kekuasaan, kehormatan, dan kekayaan mereka.
 
Pihak Yahudi pendukung Negara Israel terus menekan penguasa elit tersebut untuk mengatur agar umat Muslim menerima Israel, atau perlawanannya terhadap Israel tidak memberikan ancaman kepada umat Yahudi. 
 
Ketika Israel meningkatkan penindasannya di Tanah Suci dan khalayak Muslim Arab menjadi sangat marah, maka penguasa elit tersebut terpaksa, agar bisa bertahan, setuju untuk ikut marah melawan Israel. 
 
Strategi (penguasa) Arab-Yahudi ini sekarang mencapai tahap pelaksanaan rumit yang merupakan strategi dari orang-orang yang pada intinya telah meninggalkan agama Ibrahim AS. 
 
Kemudian Yahudi Zionis akan meninggalkan penguasa Arab. Sesungguhnya strategi meninggalkan penguasa Arab tersebut telah dimulai. Bahkan saat buku ini ditulis, Israel sedang menyiapkan perang melawan umat Muslim Arab untuk memperluas wilayahnya. Kemudian Israel akan menguasai seluruh wilayah sebagai Negara 
Penguasa di dunia (menggantikan AS).
 
 
Dalam merespon semua strategi Yahudi Zionis yang menentang Allah Maha Tinggi, orang-orang beriman berpegang kepada Alquran yang dengan jelas menyatakan:
 
“Dan mereka (Yahudi tertentu) membuat tipu daya dan rencana, dan Allah pun 
Membuat tipu daya dan rencana, dan Allah adalah sebaik-baiknya pembuat tipu 
daya dan rencana.”
(QS. Ali Imran: 54).
 
Strategi tersebut berhasil di Mesir, Yordania, Turki dan Saudi-Arabia, negara-negara sahabat Amerika Serikat. Namun strategi tersebut tidak berhasil di Tanah Suci, juga tidak berhasil di Suriah dan Yaman. 
 
Pembaca buku ini mungkin ingin merenungi doa Nabi Muhammad SAW berikut ini:
 
“Dari Ibnu Umar: Nabi SAW bersabda: Ya Allah! Limpahkanlah 
Rahmat-Mu untuk Sham (Suriah) dan Yaman kami. Orang-orang berkata: Najd kami (Najd adalah bagian dari Saudi-Arabia yang merupakan tempat asal penguasa-penguasa Saudi). Nabi bersabda lagi: Ya Allah! Limpahkanlah Rahmat-Mu untuk Sham dan Yaman kami. Mereka berkata lagi: Najd kami juga. Pada saat itu Nabi bersabda: Akan muncul gempa bumi dan penderitaan, dan dari situ (Najd) akan keluar sisi kepala Setan.” (Sahih Bukhari). 
 
 
Negara Yahudi Israel telah melalui lima puluh tahun keberadaannya. Tetapi hal tersebut tentu bukan prestasi menakjubkan, seperti yang diyakini umat Yahudi Zionis. 
 
Gerakan Zionis menipu Bani Israel dengan kebohongan yang menggunung. Kebohongan tersebut adalah slogan yang tidak benar, “suatu tanah tanpa manusia untuk manusia tanpa tanah”.
 
Jika bangsa Arab bukan "manusia", jika mereka adalah "belalang" seperti yang dinyatakan oleh mantan Perdana Menteri Israel, Shamir, maka bukankah bangsa Arab telah mengijinkan umat Yahudi tinggal di antara mereka selama lebih dari dua ribu tahun? 
 
Bangsa Arab menjamin keamanan hidup dan harta umat Yahudi di Tanah Arab selama lebih dari dua ribu tahun. Bangsa Arab melakukan semua, pada saat bangsa Eropa menutup pintu dari umat Yahudi, atau dengan enggan membolehkan umat Yahudi tinggal di Ghetto (daerah lokalisasi umat Yahudi). 
 
Bangsa Arab melakukan semua itu karena mereka masih memiliki "sisa" agama Ibrahim AS yang datang kepada mereka melalui Ismail AS.
 
Sisa dari Kebenaran itu telah mengajari mereka untuk 
menunjukkan keramahan. Sampai hari ini keramahan bangsa Arab masih 
bertahan. Agama Ibrahim yang sama seharusnya telah mengajari pemeluk Yahudi untuk menunjukkan rasa terima kasih kepada "belalang" yang ramah.
 
 
Zionisme berargumen bahwa Kebenaran, dalam Yahudi, telah menganugerahkan Tanah Suci kepada umat Yahudi secara eksklusif, untuk selamanya, dan tanpa syarat. Zionisme berargumen bahwa restorasi Negara Yahudi Israel, yang dihancurkan Allah Maha Tinggi lebih dari dua ribu tahun lalu, mengesahkan klaim Yahudi sebagai Kebenaran. 
 
Selain itu, bukankah Taurat menyatakan, “setiap tempat yang diinjak oleh telapak kakimu, kamulah yang akan memilikinya.”  (Ulangan/Deuteronomy, 11: 24).
 
Selama lima puluh tahun sejak lahirnya Israel, dunia telah menyaksikan bencana "telapak kaki" umat Yahudi pada tragedi meluasnya wilayah Israel. Perluasan itu bahkan masih belum berhenti.
 
Meskipun "tampaknya" Israel dikepung sehingga perlu melindungi diri dari serangan bangsa Arab, namun pada waktu buku ini diterbitkan, "kenyataannya"
adalah Israel sedang menyiapkan perang besar melawan bangsa Arab, agar perbatasan Negara Yahudi tersebut dapat meluas secara dramatis sesuai dengan wilayah Tanah Suci dalam al-Kitab, yakni "dari Sungai Nil sampai Sungai 
Eufrat."
 
 
Perang itu, yang direncanakan dengan sangat teliti, juga akan membuat
Israel menggantikan Amerika Serikat sebagai "Negara Penguasa" di dunia.
 
Dengan begitu, dari sudut pandang al-Kitab, umat Yahudi berhasil merestorasi Negara Israel, kemudian berhasil memperluas wilayah negaranya. Umat Yahudi juga menguasai Kota Suci Jerusalem, tentu tampak mengesahkan klaim Yahudi sebagai agama yang benar.
 
Pertanyaannya adalah, bagaimana hal ini tercapai tanpa al-Masih?
 
Jawabannya, hal itu tercapai dengan tipu daya al-Masih palsu (al-Masih ad-Dajjal).
 
Bahkan implikasi yang tak terelakan dari tampak berhasilnya restorasi Israel 
sesuai al-Kitab, adalah mengesahkan klaim Yahudi bahwa 'Isa (Jesus) AS dan Muhammad SAW adalah dua Nabi Palsu.
 
Tetapi demi terciptanya Negara Israel, umat Yahudi harus bergabung dengan peradaban Barat modern yang baru muncul, yang pada intinya tidak bertuhan (sekuler), dan dekaden. Dunia Barat yang tak bertuhan mengokohkan kekuasaannya sebagai aktor dominan yang tak tertandingi di atas panggung dunia, “turun pada manusia dari setiap ketinggian”, atau “menyebar ke segala arah” (QS. Al-Anbiya: 96) untuk mengontrol semua lautan, daratan dan udara. 
 
Tidak akan ada Negara Yahudi yang dapat bertahan selama lebih dari lima puluh tahun tanpa bantuan aktif Barat yang memiliki kekuatan penuh.
Umat Yahudi yang mendukung Negara Israel mengakui apa yang tampak bagi mereka adalah restorasi Israel sesuai al-Kitab. 
 
 
Tetapi mereka mengabaikan ketidakadilan dan penindasan yang menimpa penduduk Palestina, baik Kristen maupun Muslim, yang tampaknya memiliki dosa karena tinggal di Tanah Suci "milik Yahudi". Ketidakadilan dan penindasan itu semakin meningkat dalam lima puluh tahun. 
 
Pertanyaannya kepada umat Yahudi adalah, apakah klaim yang sah sebagai Kebenaran cocok dengan ketidakbertuhanan (sekuler), dekadensi, ketidakadilan, rasisme, dan penindasan?
 
Bagaimana bisa umat yang menggabungkan diri dengan negara yang pada intinya tidak bertuhan, tetapi masih saja mengklaim beriman pada Tuhan-nya Ibrahim?
 
Yahudi Zionis berdalih tidak memaksa penduduk Palestina keluar dari rumah mereka, melainkan mereka sendiri yang pergi. 
 
Kalau begitu, mengapa umat  Yahudi itu tidak menjaga rumah mereka sebagai bentuk rasa saling percaya? Dan mengapa umat Yahudi tidak mengundang mereka untuk kembali ke rumah mereka?
 
Bahkan umat Yahudi itu selama lima puluh tahun bersikeras tetap menolak "hak mereka kembali" ke rumah milik mereka sendiri. 
 
 
Penindasan licik Israel terus meningkat setiap hari. Israel akan segera mencapai 
puncak kejayaan "palsu" saat menjadi Negara Penguasa di dunia. Namun, buku ini menyatakan bahwa dunia sedang menyaksikan permulaan dari tahap akhir Negara Yahudi Israel Palsu! 
 
Umat Yahudi tidak bisa menyalahkan Zionis atas keadaan buruk yang akan menimpa mereka. Semua yang Zionis lakukan adalah mengeksploitasi setiap kebohongan yang disisipkan dalam al-Kitab dengan menghiasi kebohongan-kebohongan tersebut dengan tambahan segunung lebih kebohongan.
 
Rujukan
 
 
 

Editor: Asep D Darmawan

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Al Quran dan Perang Besar (Bagian ke 1)

Jumat, 18 Februari 2022 | 22:19 WIB

Problem Utama Umat Islam Saat Ini, Ini Solusinya!

Rabu, 9 Februari 2022 | 07:07 WIB

Sejarah akan Berakhir sebagaimana Sejarah Berawal

Jumat, 4 Februari 2022 | 07:21 WIB
X