• Kamis, 9 Desember 2021

Tuhan Mendorong Manusia untuk Berpikir (Metodologi Pembacaan Al Qur'an, Bagian ke-2, seri Eskatologi Islam)

- Sabtu, 6 November 2021 | 20:38 WIB
Maman Supraitman, Penulis Buku Kosmologi Islam. (TiNewss)
Maman Supraitman, Penulis Buku Kosmologi Islam. (TiNewss)
 
Ketika menjelaskan kenapa Allah tidak memberi nama spesifik pada Kitab SucinNya yang terakhir, dan 'hanya' menyebutnya sebagai "Bacaan", atau Al Qur'an (berbeda dengan Zabur, Taurat, dan Injil), Syekh Imran memulai penjelasannya bahwa membaca Alquran dan mempelajarinya itu berbeda. 
 
Membaca (tilawah) Alquran harus berurutan, dimulai dari surat Al-Fatihah sampai Surat An-Nas. Tapi mempelajari (tadarrus/tadabbur)  Al Qur'an tidak bisa berurutan, melainkan harus tematik. 
 
Karena itu, sebenarnya pendekatan atau metodologi yang ditawarkannya tidak benar-benar baru, karena dalam Ilmu Tafsir sudah lama terdapat jenis Tafsir Maudlu'i atau Tafsir Tematik. 
 
 
 
Yang baru adalah tema atau subjeknya, yaitu subjek akhir zaman. Dari sinilah asal usul dan substansi kajian Eskatologi Islam.
 
Menurut Syekh Imran, metodologi mempelajari Alquran diisyaratkan dalam Surat Al-Waqi'ah Ayat 75-81:
 
"Lalu Aku bersumpah dengan tempat beredarnya bintang-bintang."
 
"Dan sesungguhnya itu benar-benar sumpah yang besar sekiranya kamu mengetahui,"
 
"dan (ini) sesungguhnya Al-Qur'an yang sangat mulia,"
 
"dalam Kitab yang terpelihara (Lauh Mahfuz),"
 
"tidak ada yang menyentuhnya selain hamba-hamba yang disucikan."
 
"Diturunkan dari Tuhan seluruh alam."
 
"Apakah kamu menganggap remeh berita ini (Al-Qur'an)?"
 
 
 
 
Sumpah Allah ini (Ayat 75) bukanlah sumpah biasa, melainkan sumpah yang besar (Ayat 76). Karena kemuliaan dan kebesarannya itu, maka tidak akan ada yang bisa nenyentuhnya (memahaminya) selain hamba-hamba yang disucikan (Ayat 79).
 
"Apakah kamu menganggap remeh berita ini?" (Ayat 81).
 
"Allah bersumpah dengan posisi dimana bintang-bintang berada...", ini sebuah Sumpah yang sangat penting karena mengisyaratkan bagaimana seharusnya Alquran dipelajari. 
 
Tidak mungkin memperoleh petunjuk arah dari bintang-bintang, bila hanya melihat dan berpatokan kepada satu bintang. Kita baru akan memperoleh petunjuk dari pola bintang, dimana sejumlah titik bintang dihubungkan sehingga membentuk pola tertentu. 
 
 
 
 
Demikian pula, kita tidak akan bisa memperoleh petunjuk dari Alquran bila hanya berpegang kepada satu ayat. Alquran baru akan berfungsi sebagai Hudan atau petunjuk, apabila kita mampu menemukan pola hubungan dari sejumlah ayat yang berkaitan. Itulah esensi Tafsir Maudlu'i.
 
Sebagaimana tidak sembarang orang bisa mengenali pola hubungan antar-bintang, demikian pula tidak semua orang bisa mengenali pola hubungan antar-ayat dalam Alquran. Hubungan antar-ayat itu bisa dikenali polanya hanya oleh "hamba-hamba yang disucikan".
 
*Kisah Pemuda Ashabul Kahfi dan Hiperinflasi Venezuela*
 
Tak bisa dipungkiri bahwa Metodologi mempelajari Alquran yang ditawarkan Syekh Imran telah memberikan sumbangan yang sangat penting dalam khazanah pemikiran Islam kontemporer. 
 
 
 
 
Seperti yang sering diulang-ulanginya, bahwa bila Alquran menjelaskan segala sesuatu (terdapat 10 Ayat dalam Tag "Alquran menjelaskan segala sesuatu", misalnya dalam Surat Al-Baqarah Ayat 216), maka Alquran juga harus bisa menjelaskan realitas yang terjadi di dunia saat ini.
 
Bagaimanakah Alquran menjelaskan hiperinflasi yang melanda Venezuela pada tahun 2018?
 
Belum lama ini Venezuela dilanda hiperinflasi yang sangat parah. 
 
 
Menurut analisis konvensional penyebab terjadinya hiperinflasi di Venezuela adalah: resesi ekonomi yang berkepanjangan, anjloknya harga minyak dunia, dan defisit devisa. 
 
 
 
Seperti biasa, analisis konvensional hanya bisa melihat rangkaian sebab-akibat pada level pertama. 
 
 
 
Pada level kedua, pertanyaannya adalah: Mengapa terjadi resesi ekonomi berkepanjangan? Mengapa harga minyak dunia anjlok? Mengapa terjadi defisit devisa?
 
Pada level ketiga, pertanyaannya adalah, apakah terdapat kaitan antara ketiga faktor penyebab itu?
 
Pada level berikutnya, pertanyaannya lebih kompleks lagi: Bagaimana semua itu bisa terjadi pada Venezuela? Adakah kaitan antara hiperinflasi Venezuela dengan Bolivia dan Zimbabwe? Mengapa terjadi dalam rentang waktu yang berurutan?
 
Pertanyaan-pertanyaan itu ibarat potongan-potongan puzzle tanpa makna, dan baru bermakna bila dibaca dalam sebuah grand-theory yang juga diyakini Syekh Imran, yaitu: 1) inflasi adalah senjata yang paling berbahaya; dan 2) siapa yang bisa mengendalikan uang, ia akan menguasai dunia.
 
Ini sebabnya kenapa Alquran perlu mengulang peringatan dalam subjek ini sebanyak tiga kali:
وَلَا تَبْخَسُوا النَّا سَ اَشْيَآءَهُمْ
yaitu dalam Surat: Al-A'raf: 85, Hud: 85 dan Asy-Syu'ara: 183.
 
 
 
 
Hiperinflasi Venezuela telah menggerus nilai mata uangnya hingga 99,9%, atau hampir tidak bernilai, hingga kertas tisu lebih  berharga dari tumpukan uang kertas. 
 
Inflasi juga yang telah mengakhiri era Orba (bila Pa Harto tidak segera menyadari dengan cara mengundurkan diri, sangat mungkin akan berlanjut menjadi hiperinflasi. Dalam waktu singkat Presiden BJ Habibie bisa mengendalikan inflasi, meskipun kemudian, masa kepemimpinannya yang sangat singkat, juga masih menyimpan sejumlah misteri).
 
*Sejarah akan terus berulang. Inflasi telah dan akan selalu menjadi senjata yang paling berbahaya yang mengancam perekonomian dunia, selama sistem ekonomi keuangan dilepaskan dari nilai instrinsiknya.*
 
Itu sebabnya Alquran mengabadikan kisah pemuda Ashabul Kahfi yang sengaja Allah tidurkan selama 300 tahun (dalam hitungan Syamsiyah), dimana selama masa itu mata uang perak yang dimiliki para pemuda itu sama sekali tidak mengalami inflasi, dan masih bernilai seperti sebelum mereka ditidurkan, adalah pelajaran penting bagi umat manusia. 
 
Inilah pula sebabnya, Alquran tidak diberi nama spesifik sebagaimana Zabur, Taurat dan Injil, dan 'hanya' disebut "Bacaan", adalah untuk mendorong umat manusia agar berfikir.

Editor: Asep D Darmawan

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Surat Al Kahfi dan Fitnah Dajjal

Rabu, 24 November 2021 | 06:58 WIB

Epistemologi Surat Al-Kahfi

Jumat, 19 November 2021 | 06:16 WIB

Kontradiksi Pluralisme Agama

Kamis, 18 November 2021 | 06:04 WIB

Keutamaan Salat Jum'at

Jumat, 18 Juni 2021 | 12:00 WIB
X