• Kamis, 9 Desember 2021

Menimbang Urgensitas Pembangunan Jalur Kereta Api

- Kamis, 7 Oktober 2021 | 07:53 WIB
Ilustrasi : Rel Kereta Api di Jawa Barat Selatan (Instagram/Susi Susanti)
Ilustrasi : Rel Kereta Api di Jawa Barat Selatan (Instagram/Susi Susanti)

Pembangunan di Jawa Barat selatan bisa jadi akan semakin berkembang, seiring dengan berbagai upaya pembukaan akses transportasi dari dan menuju Jawa Barat selatan.

Diantaranya adalah upaya pembukaan jalur kereta api, mengingat potensi pariwisata di pantai selatan sangat besar namun belum ditunjang infrastruktur kereta api.

Sebagaimana dilansir jabarprov.go.id., Gubernur Jawa Barat Mochamad Ridwan Kamil mengatakan: "Harapan saya agenda terdekat adalah mencoba jalur Bandung-Garut supaya menyemangati pariwisata. Kedua aktivasi jalur Belanda yang lama. Ketiga saya punya mimpi jalur baru sepanjang Jabar selatan. Itu menghidupkan peradaban baru di selatan Jawa Barat yang sekarang sepi karena enggak ada infrastrukturnya," jelasnya. (24/9/2021)

 

Baca Juga: Negara Berperan dalam Menjaga Keutuhan Keluarga

 

Masyarakat tentunya berharap, dengan upaya pengadaan transportasi kereta api dapat memberikan manfaat bagi mereka, sehingga aktivitas kehidupan bisa berjalan lebih dinamis dan lebih mudah.

Namun jika ternyata paradigma kapitalistik yang digunakan, yang terjadi malah hanya akan menguntungkan segelintir pihak, khususnya mereka kalangan kaya dan pemodal besar. Prinsip untung rugilah akhirnya yang digunakan. Adapun rakyat kebanyakan seolah berjuang sendiri berjibaku sekedar memenuhi kebutuhan fisiologi mereka.

Pernah saya berbincang dengan seorang kakek pedagang tape singkong berusia tujuh puluh tahunan. Ia tinggal di daerah Cicalengka Jawa Barat, berjualan di kawasan Bandung Utara. Biasanya, dengan menggunakan kereta api, perjalanan lebih cepat dan murah. Namun setelah ada peraturan larangan menggunakan kereta api untuk pedagang, kakek ini berkisah, harus menggunakan mobil angkutan kota. Perjalanan menjadi lebih lama dan ongkos yang dikeluarkan lebih berlipat.

 

Baca Juga: Sistem Islam Role Model Lahirnya Pemimpin Harapan Umat

 

Kisah di atas bisa menjadi gambaran, bagaimana akses transportasi justru semakin meminggirkan mereka, para pedagang kecil.

Selayaknya, paradigma yang dibangun adalah bagaimana transportasi termasuk kereta api, dikembangkan dalam rangka melayani urusan masyarakat, sehingga mereka secara luas dapat menggunakan kereta api untuk memudahkan urusan secara nyaman, layak, dan terjangkau secara biaya.

Kepentingan pariwisata, jika merujuk kepada teori Maslow, mereka yg sudah mencapai pemenuhan kebutuhan pada hirarki yang lebih tinggi saja yang dapat menjangkaunya. Adapun bagi kebanyakan masyarakat terutama bagaimana bisa memenuhi hirarki kebutuhan fisiologis mereka.

 

Baca Juga: PPKM Darurat, Akankah Mampu Mengatasi Lonjakan Covid-19?

 

Jika merujuk kepada Islam, kita akan dapati bahwa infrastruktur akan bahkan harus dibangun jika memang masyarakat membutuhkannya. Hal ini terkait peran pelayanan kepada mereka, sebagaimana hadits Nabi SAW:

" Imam(kepala negara) adalah pelayan masyarakat"

Terkait ini, maka pembangunan infrastruktur termasuk kereta api adalah tanggung jawab negara, sehingga tidak boleh dipindahtangankan kepada swasta.

Mengingat kereta api sangat terkait dengan hak banyak orang, jika diswastanisasi maka akan berakibat pengabaian hak-hak masyarakat. Prinsip pelayanan kepada masyarakat akan menjamin masyarakat dapat mengaksesnya secara nyaman dengan harga murah bahkan gratis.

 

Baca Juga: Gedung Pacifik Dalam Kenangan

 

Di sisi lain, jika pengembangan wilayah/tata kota direncanakan dengan baik, pembangunan akan berjalan seimbang dan adil antara desa dan kota, sehingga warga tidak perlu melakukan migrasi untuk mencari pekerjaan hingga keluar wilayahnya.

Sebagai contoh, ketika Baghdad dibangun sebagai ibu kota, setiap bagian kota direncanakan hanya untuk jumlah penduduk tertentu, dan di situ dibangunkan masjid, sekolah, perpustakaan, taman, industri gandum, area komersial, tempat singgah bagi musafir, hingga pemandian umum yang terpisah antara laki-laki dan perempuan. Bahkan pemakaman umum dan tempat pengolahan sampah juga tidak ketinggalan. Sebagian besar warga tak perlu menempuh perjalanan jauh untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya serta untuk menuntut ilmu atau bekerja, karena semua dalam jangkauan perjalanan kaki yang wajar, dan semua memiliki kualitas yang standar.

Selain itu, dalam rangka memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat, transportasi harus menggunakan teknologi mutakhir pada zamannya.

 

Baca Juga: Angka Stunting Makin Tinggi, Sistem Islam Berikan Solusi

 

Saat kereta api ditemukan di Jerman, Sultan Abdul Hamid II mencanangkan proyek “Hejaz Railway”. Jalur kereta ini terbentang dari Istanbul ibu kota Khilafah hingga Mekkah, melewati Damaskus, Jerusalem dan Madinah. Di Damaskus jalur ini terhubung dengan “Baghdad Railway”, yang rencananya akan terus ke timur menghubungkan seluruh negeri Islam lainnya. Proyek ini diumumkan ke seluruh dunia Islam, dan umat berduyun-duyun berwakaf. Kalau ini selesai, pergerakan pasukan khilafah untuk mempertahankan berbagai negeri Islam yang terancam penjajah juga sangat menghemat waktu. Dari Istanbul ke Makkah yang semula 40 hari perjalanan tinggal menjadi 5 hari!

Rel kereta ini mencapai Madinah pada 1 September 1908. Pada 1913, stasiun “Hejaz Train” di Damaskus telah dibuka dengan perjalanan perdana ke Madinah sepanjang 1300 Km.

Demikianlah, pembangunan infrastruktur transportasi kereta api sangat terkait dengan perencanaan wilayah dan pemanfaatan teknologi mutakhir. Semua ini dilakukan dengan basis memberikan pelayanan terbaik kepada seluruh masyarakat, bukan untung rugi. (siti susanti)***

Halaman:

Editor: Rauf Nuryama

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Menimbang Urgensitas Pembangunan Jalur Kereta Api

Kamis, 7 Oktober 2021 | 07:53 WIB

Negara Berperan dalam Menjaga Keutuhan Keluarga

Senin, 6 September 2021 | 16:00 WIB

Pernikahan Publik Figur Islami

Kamis, 19 Agustus 2021 | 17:47 WIB

Sumedang dalam Inmendagri No 27 Tahun 2021

Rabu, 4 Agustus 2021 | 10:28 WIB

Keagungan Sistem Islam Memuliakan Anak Yatim

Selasa, 3 Agustus 2021 | 18:20 WIB

Begini Cara Pelaku Wisata Sumedang Lakukan Protes

Selasa, 3 Agustus 2021 | 17:51 WIB

Mural Art Gatotkaca, Jadi Inspirasi di Masa PPKM

Kamis, 29 Juli 2021 | 15:30 WIB
X