• Rabu, 26 Januari 2022

Keagungan Sistem Islam Memuliakan Anak Yatim

- Selasa, 3 Agustus 2021 | 18:20 WIB
Anak YATIM
Anak YATIM



Pertambahan korban meninggal akibat Covid-19 di Indonesia termasuk tertinggi di dunia. Akibatnya, banyak anak yang menjadi yatim bahkan yatim piatu.





Terkait itu, Gubernur Jawa Barat yang juga Duta Pengasuhan Anak Nasional mengajak keluarga dengan ekonomi mampu untuk menjadi orang tua asuh anak-anak yang jadi yatim atau yatim piatu yang orang tuanya meninggal karena Covid-19. (prfmnews.id, 23/7)





Menyantuni anak yatim adalah perbuatan mulia dan dianjurkan agama. Namun yang tidak boleh luput dari perhatian utama adalah bagaimana agar pandemi Covid-19 segera diakhiri. Karena inilah penyebab korban terus berjatuhan, diantaranya mengantarkan kepada kematian. Sehingga jumlah anak yatim bahkan yatim piatu terus bertambah.





Seperti diketahui, pandemi berlangsung sudah lebih dari setahun. Hingga kini, tanda-tanda berakhirnya belum diketahui pasti. Hal ini karena, solusi yang ditempuh dinilai tidak efektif mengatasi pandemi. Banyak ahli menyarankan melakukan karantina kesehatan, solusi yang paling efektif mengatasi wabah penyakit menular. Namun kenyataan, berbagai macam langkah yang diambil, terkesan tidak tegas dan seolah tidak serius dalam menangani pandemi





Padahal, jika saja sejak awal pemerintah cepat tanggap melakukan karantina dengan menjamin kebutuhan pokok masyarakat, tentu pandemi dapat terlewati. Namun kenyataan yang terjadi, dalam kondisi seperti sekarang ini, hitung-hitungan untung rugi masih dijadikan pertimbangan utama. Maka tidak aneh, jika misalnya anggaran infrastruktur masih jauh melebihi anggaran kesehatan. Jawa Barat sendiri mengeluhkan, sudah mengeluarkan dana 5 Triliun dalam upaya menangani pandemi. Dan efeknya, seperti yang saat ini dirasakan bersama, ekonomi-pun menjadi tidak karuan.





Kondisi ini tidak lain disebabkan sistem kapitalisme yang diterapkan di negeri kita tercinta ini. Kapitalisme menjadikan ekonomi sebagai prioritas sehingga mengalahkan perhatian terhadap keselamatan jiwa masyarakat.





Sistem kapitalisme juga menciptakan jurang pemisah antara si kaya dan si miskin. Prinsip 'invisible hand' seperti yang digagas pencetus kapitalisme Adam Smith, menjadikan kehidupan seolah hutan rimba. Siapa yang kuat secara modal ia akan bertahan, dan yang lemah akan tersisihkan. Maka tidak aneh jika ditemukan kemiskinan melingkari keluarga besar A, dan sebaliknya keluarga besar B dalam kekayaan yang bisa sampai tujuh turunan.





Dalam kondisi tanpa pandemi saja, sistem kapitalisme nyata-nyata telah menyebabkan kemiskinan pada mayoritas masyarakat. Jangankan pada anak yatim, anak-anak yang memiliki orang tua lengkap saja kerap dihadapkan pada gizi buruk dan kesulitan dalam memperoleh pendidikan yang layak. Apalagi di masa pandemi, sistem kapitalisme menyebabkan jumlah rakyat miskin semakin banyak.





Semua ini menjadi bukti, bahwa kapitalisme tidak mampu mensejahtetakan. Baik dalam kondisi normal, apalagi saat pandemi.





Adapun mereka yang diamanahi memimpin masyarakat bertindak sebagai regulator bagi para kapital/pemilik modal besar, sehingga urusan masyarakat menjadi terabaikan.





Adapun Islam, sudah jauh hari memberikan solusi terkait penanganan wabah sebagaimana hadits Nabi SAW :
"Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu." (HR Bukhari)





Solusi yang dikenal karantina atau 'lockdown' saat ini, telah terbukti mampu menghentikan wabah Sirawih pada masa Nabi SAW dan wabah Amwas pada masa khalifah Umar Bin Al-Khattab. Keberhasilan karantina pada masa itu tidak terlepas dari peran negara dalam memenuhi kebutuhan pokok masyarakat selama menjalani karantina. Sehingga solusi ini berjalan efektif.





Terkait sikap terhadap anak yatim, syariat Islam sangat mendorong ummatnya untuk berbuat baik kepada mereka sebagaimana firmanNya:
"Dan berbuat baiklah kepada ibu-bapak, karib-kerabat dan anak-anak yatim." (TQS. An-Nisaa: 36)





Aturan Islam terkait penafkahan kepada anak pertama kali dibebankan kepada ayah sebagai kepala keluarga. Jika ayah tiada, maka urutannya jatuh kepada kakek, paman, saudara laki-laki, dst, dari pihak ayah. Sebagaimana firmannya:
“Kewajiban ayah memberikan makanan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang baik.” (TQS al-Baqarah : 233)





Jika semua penanggung nafkah tidak ada/tidak mampu, maka kaum muslimin di motivasi untuk menyantuni mereka. Dan jika tidak ada, maka negaralah yang akan menanggung nafkah untuk mereka. Sebagaimana hadits Nabi SAW :
"Siapa (yang mati) dan meninggalkan utang atau tanggungan, hendaklah ia mendatangi aku karena aku adalah penanggung jawabnya.” (HR. Al-Bukhari)





Bekerja mencari nafkah dalam rangka memenuhi kebutuhan pokok keluarga adalah kewajiban laki-laki sebagai kepala keluarga. Sehingga, pemenuhan lapangan kerja akan dibuka lebar. Jika ada yang kesulitan, negara akan membukakan, seperti membuka lapangan kerja padat karya. Disinilah diperlukan peran negara agar kewajiban ini bisa ditunaikan oleh para penanggung nafkah keluarga.





Begitu juga, negara akan memenuhi kebutuhan asasi masyarakat misalnya berupa kesehatan dan pendidikan secara layak dan cuma-cuma. Hal ini merupakan tanggung jawab negara sebagai bagian dari pengurusan negara kepada masyarakat. Dengan mekanisme ini, seluruh rakyat akan terpenuhi kebutuhan asasi nya secara adil, tanpa memandang dia kaya atau miskin. Hal ini merupakan kewajiban negara, sebagaimana hadits Nabi SAW:






" Amir (pemimpin rakyat) adalah pengurus (mereka). Dia bertanggung jawab atas urusan rakyatnya.” (HR. Muslim).





Kewajiban-kewajiban ini akan mampu ditanggung oleh negara, karena terkait dengan sistem politik ekonomi yang diatur Islam. Terkait ini, Islam menetapkan bahwa Sumber Daya Alam (SDA) merupakan milik bersama masyarakat. Adapun pengelolaannya merupakan tugas negara. Hasil pengelolaan SDA ini adalah salah satu sumber pemasukan kas negara untuk pengurusan urusan masyarakat. Negeri kita yang kaya akan SDA seharusnya mampu mengantarkan kesejahteraan rakyat, jika saja mekanisme ini dijalankan.





Selain itu, sumber pemasukan negara yang lain berasal dari pos zakat. Alokasi zakat khusus untuk delapan asnaf/golongan, diantaranya untuk fakir miskin (lihat Surat At-taubah :60).Dengan mekanisme ini, anak-anak yatim yang miskin dapat terpenuhi kebutuhannya dari pos ini.





Jika negara menghadapi kondisi sulit seperti bencana atau paceklik yang berkepanjangan sehingga menyebabkan kas negara kosong, kewajiban untuk memenuhi kebutuhan asasi masyarakat tetap tidak boleh ditinggalkan. Negara harus tetap berusaha mencari sumber-sumber pemasukan agar kewajiban ini tetap dapat tertunaikan. Pada kondisi ini, negara diperbolehkan untuk memungut pajak dari kalangan kaya dari kaum muslimin. Dan saat kas negara kembali mencukupi, pajak inipun dihentikan.





Demikianlah, serangkaian mekanisme syariat Islam dalam memenuhi kebutuhan asasi masyarakat. Dengan mekanisme ini, masyarakat akan sejahtera. Para ayah akan giat bekerja mencari nafkah tanpa terbebani biaya hidup yang berat. Anak-anak-pun (termasuk anak yatim) akan sehat, gembira, dan giat belajar menggapai cita-cita karena terpenuhi kebutuhan mereka secara adil. Inilah keagungan sistem Islam, dalam memuliakan anak yatim.





  • Siti Susanti, S. Pd. adalah Pengelola Majlis Zikir Assakinah

Halaman:
1
2
3
4
5

Editor: grazynaharlow8

Terkini

5 Tahapan: Cara membuat Kontak WA Jadi Prioritas

Rabu, 12 Januari 2022 | 13:30 WIB

Menimbang Urgensitas Pembangunan Jalur Kereta Api

Kamis, 7 Oktober 2021 | 07:53 WIB

Negara Berperan dalam Menjaga Keutuhan Keluarga

Senin, 6 September 2021 | 16:00 WIB

Pernikahan Publik Figur Islami

Kamis, 19 Agustus 2021 | 17:47 WIB

Sumedang dalam Inmendagri No 27 Tahun 2021

Rabu, 4 Agustus 2021 | 10:28 WIB

Keagungan Sistem Islam Memuliakan Anak Yatim

Selasa, 3 Agustus 2021 | 18:20 WIB

Begini Cara Pelaku Wisata Sumedang Lakukan Protes

Selasa, 3 Agustus 2021 | 17:51 WIB
X