• Minggu, 28 November 2021

Peranan Guru Dalam Memulihkan Pendidikan Akibat Pandemi COVID-19

- Kamis, 25 November 2021 | 09:21 WIB
Peranan Guru dalam Memulihkan Pendidikan Akibat Pandemi COVID-19 (Dok.@pixabay)
Peranan Guru dalam Memulihkan Pendidikan Akibat Pandemi COVID-19 (Dok.@pixabay)



Sudah dua tahun terakhir ini, hari Guru yang biasa diperingati oleh seluruh bangsa Indonesia pada setiap tanggal 25 Nopember dilakukan secara berbeda. Pada tahun yang lalu, disaat pandemi COVID-19 mencapai puncaknya, peringatan Hari Guru Nasional dilakukan secara virtual.

Tahun ini, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Republik Indonesia mengeluarkan pedoman untuk memperingati Hari Guru Nasional tahun 2021 dengan tema “Bergerak dengan Hati Pulihkan Pendidikan Indonesia” dapat dilakukan secara tatap muka dengan tetap mengikuti protokol kesehatan.

Sejarah lahirnya hari guru itu sendiri tidak bisa dipisahkan dari hari lahirnya organisasi Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) pada tanggal 25 Nopember 1945. Sedangkan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), merupakan organisasi yang awalnya berasal dari Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB) yang didirikan tahun 1912, kemudian berubah menjadi Persatuan Guru Indonesia (PGI) tahun 1932. Penggunaan nama Indonesia dalam organisasi guru, menunjukkan keinginan yang kuat untuk memajukan pendidikan bagi bangsa Indonesia.

Baca Juga: Surat Al-Kahfi dan Fitnah Dajjal, Cara Dajjal Menguasai Dunia (bagian kedua, Seri Eskatologi Islam)

Sesuai dengan tema Hari Guru tahun ini “Bergerak dengan Hati Pulihkan Pendidikan Indonesia”, ada harapan untuk memulihkan Pendidikan Indonesia yang tentunya tidak bisa dipisahkan dengan dampak dari pandemi covid 19. Selama pandemi covid 19 praktis pendidikan berlangsung secara online / daring dengan tujuan menekan penyebaran covid 19 sekaligus menyelamatkan pendidikan bangsa Indonesia agar tetap dapat dilangsungkan.

Sistem pembelajaran online / daring yang diberlakukan pada awal pandemi covid 19 mengagetkan semua pihak (culture shock), baik pihak sekolah, guru, orang tua serta masyarakat dan pihak-pihak yang terlibat dalam dunia pendidikan. Kondisi ini disebabkan karena sistem pendidikan di Indonesia belum terbiasa dilakukan secara online / daring.

Dengan menggunakan sistem pembelajaran secara online / daring, praktis peranan guru dalam melangsungkan pembelajaran sangat bergantung kepada penggunaan teknologi, begitupun dengan peserta didik. Sehingga dengan demikian teknologi digital dengan berbagai teknologi pendukungnya menjadi sangat penting seperti ketersediaan layanan internet.

Baca Juga: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2022, Bank Indonesia Proyeksikan tumbuh 4,7-5,5 Persen

Berbagai persoalan akhirnya bermunculan selama kurang lebih hampir empat semester pembelajaran online / daring dilaksanakan. Persoalan yang muncul bukan hanya disebabkan oleh ketersediaan dari perangkat teknologi itu sendiri, akan tetapi lebih banyak disebabkan ketidak siapan secara psikologis baik guru, peserta didik maupun orang tua. Hal ini disebabkan oleh perubahan yang sangat drastis, dari pembelajaran yang dibimbing oleh guru secara langsung menjadi pembelajaran yang lebih menekankan pembimbingan penuh oleh orang tua.

Halaman:

Editor: Rauf Nuryama

Artikel Terkait

Terkini

Raffi dan Nagita, dapat Momongan Baru, Siapa Namanya?

Jumat, 26 November 2021 | 17:33 WIB

Lagu Hymne Guru, ini Profil Pencipta dan Lirik Lagunya

Selasa, 23 November 2021 | 15:04 WIB
X