• Minggu, 28 November 2021

Moralitas Berpikir Kritis (Epistemologi Surat Al Kahfi Bagian 2

- Selasa, 23 November 2021 | 07:10 WIB
Maman Supriatman (TiNewss)
Maman Supriatman (TiNewss)
 
Epistemologi Surat Al-Kahfi adalah Epistemologi Majma' al-Bahrain. Epistemologi yang mengintegrasikan dua jenis/sumber pengetahuan, yaitu pengetahuan rasional dan pengetahuan intuitif.
 
Setelah Nabi Musa AS yang rasional berhasil mengalahkan superioritas Firaun (atas mukjizat yang dianugerahkan kepadanya), Allah menyuruh Nabi Musa AS untuk berguru kepada Nabi Khidr AS yang dianugerahi pengetahuan intuitif, yang belum dimiliki oleh Nabi Musa AS.
 
Alquran menjelaskan peristiwa ini dalam Surat Al-Kahfi Ayat 65:
 
فَوَجَدا عَبْداً مِنْ عِبادِنا آتَيْناهُ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنا وَعَلَّمْناهُ مِنْ لَدُنَّا عِلْماً
 
“Lalu mereka berdua bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami anugerahkan rahmat kepadanya dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan ilmu kepadanya dari sisi Kami."
 
 
Dari sinilah istilah _Ilmu Laduni_ berasal. Ada yang menyebut pengetahuan jenis ini sebagai Ilmu: Hudluri, 'Irfani dan Kasyfi.
 
Mengapa peristiwa ini diabadikan dalam Alquran?
 
Menurut Syekh Imran, ayat-ayat dalam subjek ini bukan ayat muhkamah, tapi mutasyabbihat, yang tidak bisa difahami secara harfiyah saja, karena mengandung makna metaforis.
 
Makna harfiyah dari majma' al-bahrain adalah tempat bertemunya dua lautan, dimana Nabi Musa AS bertemu dengan Nabi Khidr AS. 
 
Namun majma' al-bahrain  juga bermakna metaforis, yaitu tempat bertemunya dua samudera pengetahuan, yakni pengetahuan yang berasal dari luar (eksternal) yang diperoleh secara rasional, dan samudera pengetahuan internal yang diperoleh secara intuitif. 
 
 
 
Anda harus bekerja, jika Anda tidak menanam, maka Anda tidak dapat menuai. Itulah pengetahuan eksternal. Selain itu, ada jenis pengetahuan lain yang diterima secara internal. 
 
Hanya ketika dua jenis lautan pengetahuan ini terintegrasi secara harmonis, Anda dapat menemukan pemikiran kritis. 
 
Syekh Imran mengakui, Iqbal akan bisa menjelaskan subjek ini jauh lebih baik daripada yang dapat ia lakukan. 
 
Dalam Rekonstruksinya, Iqbal menulis dua bab pertama yang sulit. Sebagai mahasiswa Magister Filsafat di Universitas Karachi sekitar 50 tahun yang lalu, Syekh Imran harus membaca dua bab itu sekitar 20 kali, untuk mencoba memahami upaya Iqbal dalam menunjukkan validitas pengetahuan yang diterima secara internal. 
 
Dalam dua bab pertama bukunya itu, Iqbal berupaya untuk membangun validitas  pengetahuan yang bisa diterima, mengingat epistemologi barat sekuler tidak mengakui jenis pengetahuan intuitif ini sebagai pengetahuan, bahkan sampai hari ini. 
 
 
Sementara itu Alquran mengajarkan, Anda akan menemukan pemikir kritis sejati dari Surat Al-Kahfi, hanya ketika dua lautan ilmu itu terintegrasi secara harmonis. Sayangnya, tidak ada yang mengerti. 
 
Inilah alasan kenapa (sistem pendidikan di dunia Islam) tidak lagi menghasilkan ulama (ulama dalam makna _majma' al-bahrain_). Sebabnya, karena desain kurikulum, sistem pembelajaran serta sistem pendidikannya secara keseluruhan, dirancang hanya untuk menghasilkan jenis pengetahuan eksternal yang rasional-mekanis, yang dimiliki secara turun-temurun, dikemas dan ditransfer dari satu generasi ke generasi. 
 
Hasilnya, kita hanya bisa melihat realitas dunia dengan sebelah mata. 
 
يَعْلَمُوْنَ ظَاهِرًا مِّنَ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا ۖ 
 
"Mereka mengetahui yang lahir (tampak) dari kehidupan dunia; 
(QS. Ar-Rum: 7).
 
 
اَفَلَمْ يَسِيْرُوْا فِى الْاَ رْضِ فَتَكُوْنَ لَهُمْ قُلُوْبٌ يَّعْقِلُوْنَ بِهَاۤ اَوْ اٰذَا نٌ يَّسْمَعُوْنَ بِهَا ۚ فَاِ نَّهَا لَا تَعْمَى الْاَ بْصَا رُ وَلٰـكِنْ تَعْمَى الْـقُلُوْبُ الَّتِيْ فِى الصُّدُوْرِ
 
"Maka tidak pernahkah mereka berjalan di bumi, sehingga hati (akal) mereka dapat memahami, telinga mereka dapat mendengar? Sebenarnya bukan mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada."
(QS. Al-Hajj: 46).
 
Dari Nafi dari Abdullah, berkata: Dajjal disebut-sebut di sisi Nabi SAW, lantas beliau berkomentar: "Allah tidak samar bagi kalian, Allah tidak buta sebelah - sambil mendemontrasikan dengan tangannya ke matanya - dan bahwasanya Al-Masih Ad-dajjal buta sebelah kanan, seolah-olah matanya anggur yang menjorok." (HR. Bukhari, 7407).
 
Agar bisa menembus realitas serta memenuhi syarat untuk menjadi pemikir kritis, Anda tidak hanya harus belajar  bagaimana berfikir rasional, tetapi juga harus belajar bagaimana menerima pengetahuan secara internal. 
 
 
Allah telah bersumpah dengan posisi di mana bintang-bintang berada. Lalu Allah melanjutkan dengan mengatakan bahwa ini bukan Sumpah biasa. Ini adalah Induk dari semua Sumpah.
 
Dia melanjutkan dengan mengatakan bahwa Alquran berarti bacaan, bacaan mulia yang terletak di sebuah tempat yang dilindungi. Tidak ada yang bisa menyentuhnya kecuali mereka yang suci dan bersih. 
(QS. Al-Waqi'ah: 75-79).
 
Di tempat lain Dia mengatakan bahwa Aku telah memberi kalian bintang-bintang di langit sebagai lampu yang memberikan cahaya, yang dengan cahaya itu kalian tahu ke mana harus pergi. 
 
وَعَلٰمٰتٍ ۗ وَبِا لنَّجْمِ هُمْ يَهْتَدُوْنَ
 
"dan (Dia menciptakan) tanda-tanda (penunjuk jalan). Dan dengan bintang-bintang mereka mendapat petunjuk."
(QS. An-Nahl: 16).
 
 
Rangkaian Ayat-ayat ini membawa kita kepada moralitas berpikir kritis.
 
Fakta bahwa Allah tidak memberi nama Kitab SuciNya yang terakhir secara spesifik (berbeda dengan Zabur, Taurat dan Injil), dan 'hanya' menyebutnya Alquran yang berarti bacaan. Demikian pula fakta bahwa sejak Wahyu pertama Allah sudah berbicara tentang membaca (QS. Al-'Alaq: 1-5), menunjukkan betapa pentingnya menjadikan Alquran sebagai bacaan utama. 
 
Alquran sebagai bacaan, terletak di dunia suara. Bagaimana Anda bisa menyentuh sesuatu yang terletak di dunia suara? 
 
Hal ini tidak bisa dipahami secara harfiah. "Tidak ada yang bisa menyentuh Alquran selain mereka yang bersih", menyiratkan bahwa Anda tidak dapat menembus maknanya kecuali Anda memenuhi persyaratan moral.
 
 
Refleksi
 
Saat ini kita hidup di dunia di mana seks tersedia secara bebas, seperti sinar matahari, yang setiap saat bisa menjerumuskan siapa saja. 
 
Jika Anda sudah masuk ke pintu zina, Anda tidak akan pernah bisa bahkan untuk membaca permukaannya saja dari Alquran. Anda tidak akan sanggup, apalagi mempelajarinya. 
 
Maka Anda tidak akan pernah bisa menjadi pemikir kritis, karena Alquran Yang Suci tidak dapat disentuh oleh sesuatu yang tidak suci.
 
Seekor domba seharusnya hanya menikah dengan domba, dan yang suci harus disediakan untuk yang suci. 
 
Maka, menjadi tugas utama setiap pendidik untuk menjelaskan kepada generasi penerus tentang apa yang akan mencemari mereka, dan apa yang akan menghancurkan kemurnian jiwa dan fikirannya, dan bukan sebaliknya membiarkan atau malah memfasilitasi pintu-pintu masuk yang akan merusak moralitas berfikir kritis.***

Editor: Asep D Darmawan

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Raffi dan Nagita, dapat Momongan Baru, Siapa Namanya?

Jumat, 26 November 2021 | 17:33 WIB

Lagu Hymne Guru, ini Profil Pencipta dan Lirik Lagunya

Selasa, 23 November 2021 | 15:04 WIB
X