• Minggu, 5 Desember 2021

Belajar Sejarah Belajar Menghormati Jasa Orang Lain

- Rabu, 23 September 2020 | 14:49 WIB
Belajar Sejarah Belajar Menghormati Jasa Orang Lain
Belajar Sejarah Belajar Menghormati Jasa Orang Lain


Hari-hari terakhir berita terkait penghapusan mata pelajaran sejarah di tingkat SMA ramai diperbincangkan. Ramainya perbincangan diawali dengan beredarnya power point dengan judul Sosialisasi Penyederhanaan Kurikulum dan Assesmen Nasional Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan tanggal 25 Agustus2020. Di salah satu slide tertulis “draft rahasia” dan “draft dokumen ini tidak untuk disebar”. Terlepas hal itu bersifat draft rahasia dan tidak untuk disebar, yang terjadi draft sosialisasi tersebut sudah beredar dengan sangat cepat dan mendapat reaksi dari berbagai pihak dan kalangan yang salah satunya adalah guru-guru sejarah.





Dalam Sosialisasi Penyederhanaan Kurikulum tersebut, diantaranya terkait rencana “penghapusan” mata pelajaran sejarah di tingkat SMA dan tidak menjadi pelajaran wajib hanya menjadi mata pelajaran pilihan. Sementara di dalam kurikulum yang digunakan dewasa ini (Kurikulum 2013) mata pelajaran Sejarah Indonesia menjadi mata pelajaran wajib di setiap jenjang kelas X, XI dan XII dengan bobot 2 jam pelajaran.





Sesuai dengan tujuan pendidikan nasional seperti yang tertuang dalam UU No.20 Th. 2003 selain bertujuan mengembangkan potensi peserta didik, pendidikan juga bertujuan untuk menghasilkan manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta memiliki akhlak mulia. Di samping itu pendidikan nasional juga bertujuan untuk menghasilkan peserta didik yang berilmu, cakap, kreatif, mandiri, sehat serta diharapkan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggungjawab. Sejalan dengan tujuan pendidikan nasional, mata pelajaran sejarah tentu saja memiliki peranan yang sangat penting karena pelajaran sejarah berkaitan dengan upaya membangun jati diri bangsa dan karakter bangsa. Pelajaran sejarah di tingkat persekolahan sangat penting diajarkan dari tingkat sekolah dasar sampai dengan sekolah menengah, karena pengetahuan masa lampau mengandung nilai-nilai (values) kearifan yang dapat digunakan untuk melatih kecerdasan peserta didik, tidak hanya berhubungan dengan kecerdasan pengetahuan, tetapi juga membentuk sikap dan watak peradaban bangsa serta pembentukan manusia Indonesia yang memiliki rasa kebangsaan dan cinta tanah air.





Rencana “penghapusan” atau “penyederhanaan” mata pelajaran sejarah di tingkat SMA dengan sendirinya akan dipertanyakan serta mendapat respon pro kontra dari berbagai kalangan mulai dari guru, dosen, peneliti, pejabat, masyarakat bahkan mentri Pendidikan dan Kebudayaan angkat bicara. Penulis sebagai guru sejarah yang sudah mengajar lebih dari 30 tahun tentu mempertanyakan alasan rencana tersebut. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan melalui video yang beredar mengklarifikasi tentang polemik tersebut dengan menyatakan tidak ada kebijakan rencana penghapusan mata pelajaran sejarah dalam kurikulum nasional dan penyederhanaan kurikulum tidak akan terjadi sampai dengan tahun 2022. Nadiem juga menyampaikan bahwa misinya adalah ingin menjadikan pendidikan sejarah relavan dan menjadi menarik bagi generasi baru dan menginspirasi mereka. Identitas generasi baru yang nasionalis akan terbentuk melalui kolektif memori yang membanggakan dan menginspirasi.





Respon dari berbagai kalangan dengan berbagai argumentasi tentang rencanapenghapusan tersebut meskipun sudah disampaikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan sampai hari ini masih terus diperbincangkan. Perdebatan selanjutnya adalah terkait mata pelajaran sejarah sebagai mata pelajaran wajib atau mata pelajaran pilihan. Sejatinya pelajaran sejarah tetap menjadi pelajaran wajib, bukan sebuah mata pelajaran pilihan, karena memiliki jati diri sebagai bangsa Indonesia wajib dimiliki oleh seluruh bangsa Indonesia, yang proses pembentukannya lewat mata pelajaran sejarah, dan pengelolaannya dilakukan oleh guru-guru sejarah yang profesional.

Halaman:

Editor: Dr. Hj. Nunung Julaeha, M.Si

Tags

Terkini

Solusi Tuntas Untuk Akses Listrik yang Masih Terbatas

Kamis, 25 November 2021 | 22:40 WIB

Narasi Mobil Listrik Ala Ahok

Rabu, 24 November 2021 | 11:25 WIB

Efektivitas OPOP Bagi Pesantren

Jumat, 12 November 2021 | 17:52 WIB

Sekilas Gamelan Parakansalak

Selasa, 9 November 2021 | 14:31 WIB

Pahlawan Nasional Cut Nyak Din Dalam Pengasingan

Senin, 8 November 2021 | 23:45 WIB

Innalillahi, Saipul Jamil ……

Selasa, 7 September 2021 | 08:10 WIB

Pembelajaran Tatap Muka di Masa Pandemi COVID-19

Minggu, 29 Agustus 2021 | 12:00 WIB

JATINANGOR Nukleus Kota Metropolitan BANDUNG

Selasa, 13 April 2021 | 03:17 WIB

Kapan dan Siapa Yang Wajib Shaum Ramadhan

Jumat, 9 April 2021 | 23:26 WIB

Waduh, Mudik Dilarang Lagi

Minggu, 28 Maret 2021 | 14:53 WIB

Urang Ngojay Ka Girang

Minggu, 7 Maret 2021 | 23:23 WIB

Memulai Sebuah Bisnis, Cukupkan Niat!

Selasa, 2 Februari 2021 | 12:11 WIB

Peringatan: Jangan Sampai Anda Kena COVID-19, Aib!

Minggu, 27 Desember 2020 | 14:29 WIB

Mendefinisikan Kebijakan Sekolah Off Line

Minggu, 29 November 2020 | 09:33 WIB

Belajar Sejarah Belajar Menghormati Jasa Orang Lain

Rabu, 23 September 2020 | 14:49 WIB

Reformasi Energi Listrik, PLN Harus Ada pesaing

Senin, 13 Juli 2020 | 13:12 WIB
X