• Minggu, 5 Desember 2021

Reformasi Energi Listrik, PLN Harus Ada pesaing

- Senin, 13 Juli 2020 | 13:12 WIB
PLN 2020
PLN 2020


Tulisan ini dipersembahkan untuk diikutsertakan dalam Lomba Karya Tulis Jurnalistik oleh Jurnalis/Wartawan yang diselenggarakan oleh Kementerian ESDM, untuk objek karya jurnalistik pada sektor 4. Ketenagalistrikan.

Oleh : RAUF NURYAMA (Jurnalis TiNewss.com)




Perusahaan Perseroan (Persero) PT. Perusahaan Listrik Negara (PLN) dan entitas Anak (Anak Perusahaan) menurut laporan keuangan konsolidasi tahun 2019, memiliki Kewajiban berupa Hutang Jangka Panjang dan hutang jangka pendek sebesar Rp 656 Trilyun atau naik sebesar Rp 90 Trilyun lebih dari Tahun 2018 sebesar Rp 565 Trilyun.





Hal ini terungkap dari laporan PT PLN yang sudah di audit oleh Akuntan Publik Amir Adabi Jusuf, Aryanti, Mawar & Rekan pada 18 Mei 2020.





Beberapa hal menarik yang perlu mendapatkan sorotan dan ulasan dari Laporan Keuangan ini adalah sebagai berikut:





  1. Jumlah Hutang PT PLN dibandingkan dengan jumlah modal lebih dari 70 Persen. Artinya Jika semua hutang dibayar dengan modal yang dimiliki oleh PT PLN maka hanya tersisa sebesr 30% saja dari modal yang tersedia. Namun demikian, 100 persen modal tersebut tidak dapat diprediksi digunakan untuk apa. Kecuali dengan melihat keseluruhan Assets, maka dapat tergambar sebagai bahwa PLN hanya memiliki uang Cash dan simpanan atau investasi jangka pendek sebesar Rp 46.9 Trilyun. Sisanya berupa asset tidak lancar, dan asset lancar untuk beban dibayar dimuka.PLN tidak Luqid. Bahkan jika kewajiban jangka pendek harus dibayarkan segera, assets lancar yang dimiliki tidak bisa memenuhi dengan segera. Yakni hanya sebesar 94% saja. Jumlah assets lancar sebesar Rp 151 Trilyun sementara kewajiban jangka pendek sebesar Rp 159 Trilyun.
  2. Secara total ada kenaikan jumlah modal sebesar Rp 2 Trilyun pada tahun 2019 dibandingkan tahun 2018. Padahal ada penambahan modal disetor sebanyak Rp 9.9 Trilyun dan Penambahan modal disetor dari Negara sebesar Rp 10.5 Trilyun.
  3. Penghasilan PLN pada tahun 2019 mengalami kenaikan sebesar Rp 12.7 Trilyun dari Rp 272.9 Trilyun pada tahun 2018 menjadi Rp 285.6 pada tahun 2019. Namun demikian, jumlah beban PLN mengalami kenaikan lebih besar dibandingkan kenaikan pendapatan. Jika beban tahun 2018 sebesar Rp 308,2 Trilyun pada tahun 2019 menjadi Rp 315.4 Trilyun atau naik sebesar Rp 7.3 Trilyun. Per tahun 2019, PLN mengalami kerugian sebesar Rp 29.8 Trilyun.
  4. Namun demikian, kerugian PLN tertutupi dengan Subsidi Listrik dari Pemerintah dan pendapatan kompensasi dari Pemerintah sebesar lebih dari Rp 73.9 Trilyun pada tahun 2019.
  5. Pendapatan yang bersumber dari dari pemerintah, ternyata masih harus dipergunakan untuk membayar bebar bunga dan pengeluaran lainnya sehingga hanya sebesar Rp 4.3 Trilyun saja yang menjadi Laba PLN setelah dipotong juga untuk membayar Pajak. Artinya, Pajak yang diterima Negara dari PLN sesungguhnya merupakan Subsidi dari Pemerintah kepada PLN.
  6. Masih dari Laporan Keuangan, jika kit abaca lebih lanjut. PLN menerima pencapatan Cash dari pelanggan sebesar Rp 287 Trilyun, namun memiliki kewajiban mebayar ke pemasok sebesar Rp 248 Trilyun). Pemasok. Dan, PLN memiliki beban untuk membayar Bunga tahun 2019 sebesar Rp 23.4 Trlyun. Jumlah beban bunga ini merupakan jumlah yang sangat besar dibandingkan dengan pendapatan bersih PLN setelah mendapatkan subsidi dari Pemerintah. Secara prosentase, Jumlah pendapatan bersih PLN hanya sebanyak 4,3 Trilyun, sedangkan pengeluaran bunga sebanyak 23.4 trilyun sebesar 5,4 kali pendapatan bersih. Artinya, PLN secara finansial tidak sanggup membayar Bunga atas pinjaman dari bunga kas uangnya, bahkan jika tidak ada subsisi dari Pemerintah, PLN sudah dalam posisi tidak memiliki kemampuan financial yang memadai.




Berdasarkan analisa saya dari laporan keuangnan yang dipublikasikan tersebut, saya memberikan beberapa analisa tambahan, demikian:


Halaman:

Editor: Rauf Nuryama

Tags

Terkini

Solusi Tuntas Untuk Akses Listrik yang Masih Terbatas

Kamis, 25 November 2021 | 22:40 WIB

Narasi Mobil Listrik Ala Ahok

Rabu, 24 November 2021 | 11:25 WIB

Efektivitas OPOP Bagi Pesantren

Jumat, 12 November 2021 | 17:52 WIB

Sekilas Gamelan Parakansalak

Selasa, 9 November 2021 | 14:31 WIB

Pahlawan Nasional Cut Nyak Din Dalam Pengasingan

Senin, 8 November 2021 | 23:45 WIB

Innalillahi, Saipul Jamil ……

Selasa, 7 September 2021 | 08:10 WIB

Pembelajaran Tatap Muka di Masa Pandemi COVID-19

Minggu, 29 Agustus 2021 | 12:00 WIB

JATINANGOR Nukleus Kota Metropolitan BANDUNG

Selasa, 13 April 2021 | 03:17 WIB

Kapan dan Siapa Yang Wajib Shaum Ramadhan

Jumat, 9 April 2021 | 23:26 WIB

Waduh, Mudik Dilarang Lagi

Minggu, 28 Maret 2021 | 14:53 WIB

Urang Ngojay Ka Girang

Minggu, 7 Maret 2021 | 23:23 WIB

Memulai Sebuah Bisnis, Cukupkan Niat!

Selasa, 2 Februari 2021 | 12:11 WIB

Peringatan: Jangan Sampai Anda Kena COVID-19, Aib!

Minggu, 27 Desember 2020 | 14:29 WIB

Mendefinisikan Kebijakan Sekolah Off Line

Minggu, 29 November 2020 | 09:33 WIB

Belajar Sejarah Belajar Menghormati Jasa Orang Lain

Rabu, 23 September 2020 | 14:49 WIB

Reformasi Energi Listrik, PLN Harus Ada pesaing

Senin, 13 Juli 2020 | 13:12 WIB
X