TiNewss.com

Berimbang Mengabarkan

Guru Sejarah SMAN Situraja Lauching Buku Jejak Sejarah Sumedang

TiNewss.com – Guru Sejarah SMAN Situraja, Engkus Kusmayanti menggelar Launching Buku Jejak Sejarah Sumedang Dalam (Menggapai Insun Medal Insun Madangan) di Ruang Kareumbi IPP Sumedang yang disambut baik Wakil Bupati Sumedang Erwan Setiawan, Kamis (22/4/2021).

Pada awal buku ini mengupas tentang gambaran georafis Sumedang, kondisi masyarakat dan ekonomi kabupaten Sumedang.

Jejak Sejarah Sumedang Menggapai Insun Medal, Insun Madangan, memaparkan zaman pra sejarah Sumedang yang diawali dengan penemuan fosil makhluk hidup gajah Purba didaerah Jembarwangi dan Ramapenundeu Kecamatan Tomo.

Sejarah Sumedang dimulai berdrinya kerajaan Tembong Agung di Leuwihideung Darmaraja, yang merupakan cikal bakal kerajaan Sumedang Larang.

Wilayah Sumedang dulunya merupakan kerajaan yang merdeka dan berdaulat, kemudian mengalami zaman di bawah kekuasaan Mataram, kemudian Kabupatian pada jaman penjajahan Bangsa Eropa, zaman kemerdekaan sampai sekarang.

Zaman kerajaan Sumedang telah melahirkan raja-raja pemberani mulai dari Prabu Adji Putih sebagai cikal bakal Tembong Agung, kemudian ada Prabu Taji Malela, yang melahirkan kata Insun Medal, Insun Madangan.

Kebesaran kerajaan Sumedang Larang mencapai suksesnya pada zaman Prabu Geusan Ulun. Zaman Kabupatian di bawah Mataram, Sumedang mendapat julukan parahyangan dan sampai sekarang masuk dalam wilayah Priangan Jawa Barat.

Pangeran Rangga Gede telah menjadi pemimpin besar waktu itu diangkat sebagai Operregent (Kepala Bupati) untuk wilayah Priangan.

Zaman penjajahan telah menghadirkan pemimpin-peminpin besar sebagai pewarian jabatan yang diturunkan secara turun temurun.

Bupati-bupati terkenal pada zaman penjajahan yaitu Pangeran Kornel, Pangeran Sugih, Pangeran Aria Suria Atmaja. Ketiga Pangeran Sumedang itu telah meninggalkan prestasi dan prestise yang menjadi tauladan bagi bidang pemerintahan dan dunia pendidikan khususnya di Sumedang.

Perjalanan zaman Jepang menggambarkan kehidupan penjajahan di bawai Dai Nipon Jepang.

17 Agustus Tahun 1945 merupakan hari kemerdekaan bangsa Indonesia yang gemanya sampai kepada pelosok negeri Indonesia. Kabupatian Sumedang sampai tahun 1951 dipegang oleh keturunan Bupati pendahulunya sebagai trah menak Sumedang.

Sejak tahun 1951 sampai 2003 jabatan Bupati diemban oleh para birokrasi yang ditetapkan oleh kementerian dalam negeri. Tahun 2003 Sampai sekarang jabatan bupati merupakan hasil pilihan dari demokrasi langsung sebagai pemenang Pemilu dengan perolehan suara terbanyak.

Membahas mengenai Sumedang Puseur Budaya Sunda, yang merupakan Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2020 sebagi upaya mencapai cita-cita Prabu Taji Malela Insun Medal, Insun Madangan.

Dalam bab ini membahas mengenai :
1) Latar belakang berisi alasan Sumedang menjadi Sumedang Puseur Budaya Sunda.
2) Sumedang kaya dengan peninggalan Sejarah dan Peninggalan Kasundaan
Tujuan adalah untuk mengenalkan, mengmbangkan, merevitalisasi, memelihara, dan melestarikan semua unsur-unsur dalan Sumedang Puseur Budaya Sunda.
3) Landasan Hukumnya, adalah undang-undang yang mendukung penetapan Sumedang Puseur Budaya Sunda,
Motto, Logo, dan Juukan dalam SPBS. Dina Agama Urang Napak, Dina Budaya Urang Napak. Logo Kembang cangkok Jaya Kusuma lengkap dengan pita dan unsur lainnya.

Julukan Sumedang “Paradisj Van Java dan Italli of The East.

Unsur-unsur SPBS seperti dimulai dengan tradisi lisan, permaian rakyat, peralatan tradisional, kesenian, situs, ritus dan sebagainya.

Kedudukan keratoan dan kelompok adat menak bangsawan Sumedang.
Mengulas tentang Keraton Sumedang Larang Membahas mengenai Menak bangsawan Sumedang.

Upaya mewujudkan Sumedang Puseur Budaya Sunda. Peninggalan-peninggalan sejarah Sumedang Kesimpulan dan Saran (Adhi SH)***