TiNewss.com

Berimbang Mengabarkan

Covid Meledak di Sumedang, Siapa Bertanggungjawab?

Dalam 26 hari di tahun 2021, Jumlah kasus baru terkonfirmasi COVID 19 menunjukan angka 531 dan jumlah meninggal sebanyak 19 orang (sumber: satgas COVID 19 Kabupaten Sumedang 26/1/2021). Padahal, sejak kasus pertama COVID 19 di Sumedang pada 22 Maret 2020 hingga 31 Desember 2020 jumlah kasus sebanyak 994 kasus dan 37 meninggal. Lonjakan sangat tinggi dibandingkan periode sebelumnya.

Dari data tersebut, per Januari telah menunjukan pertambahan kasus baru 20.42 kasus dan 0.73 orang meninggal setiap hari. Artinya hampir setiap hari ada orang meninggal dengan COVID 19 di Sumedang. Hal ini belum ditambah dengan kasus meninggal yang belum sempat dilakukan SWAB Test. Puluhan orang meninggal dengan gejala yang sangat mirip dengan mereka yang terkonfirmasi COVID 19.

Padahal di sisi lain, sosialisasi Protokol Kesehatan digembor-gemborkan. Rencana vaksinasi dipublikasikan. Perkembangan COVID 19 di beritakan. Al hasil:

Jumlah Pelanggaran Prokes menunjukan angka yang sama mengkhawatirkan. Sejak diberlakukan denda untuk menimbulkan efek jera pada tanggal 17 Desember 2020, data menunjukan hingga 26 Januari 2021 atau satu bulan lebih telah terjaring sebanyak 5.979 orang melanggar Protokol Kesehatan dan jumlah denda terkumpul yang langsung masuk ke Kas Pemda sebanyak Rp 154.887.000,-. wow

Baca Juga : Bukan Di Sumedang, COVID-19 Makin Ganas Hingga Makam Cepat Penuh

Jumlah Netizen yang nyinyir tentang berita COVID 19, semakin banyak. Ancaman terhadap media pun banyak diayangkan di media sosial. “Berhenti beritakan COVID 19,’ katanya.

Sekolah masih harus dilakukan secara belajar melalui daring dan cara lainnya dengan tidak tatap muka. Dengan tujuan, supaya tidak ada penyeberan di Sekolah. Faktanya, tidak sedikit orang tua yang stress dan meminta anak bisa sekolah dengan tatap muka, tanpa peduli perkembangan COVID 19 yang terjadi. Walaupun hingga hari ini, kecuali dengan pembatasan sudah dilakukan uji coba tatap muka, sayangnya sekarang semua kembali belajar dari Rumah.

Bekerja dari Rumah, Work From Home, faktanya tidak sedikit orang yang tidak betah bekerja dari rumah. Mereka tetap menjalankan aktivitasnya seperti biasa. Bahkan, sebagian yang WFH malah terkonfirmasi Positif karena bukan bekerja dari Rumah, dipakai buat jalan-jalan ke luar rumah. Hadeuh….

Tempat wisata diliburkan, ditutup baik sebagian maupun seluruhnya. Membuat tidak sedikit tenaga kerja di rumahkan ada juga yang di PHK. Larangan wisata di tempat pariwisata berizin, tidak menyurutkan warga untuk datang ke tempat wisata gratisan. Banyak berkerumun dan tidak terkendali. Mungkinkan dari sini, COVID 19 menyebar juga?

Kebijakan Pemerintah berlakukan jam operasional perusahaan termasuk tempat makan, restauran dan pedagang lainnya. Tidak menyurutkan pelaku usaha mikro yang berjualan sebagai PKL tetap berjalan. Dengan alasan, bahwa siang dia tidak bekerja hanya bisa melakukan pekerjaannya malam. Bahkan, sambil berseloroh, “Emang COVID 19 beredarnya malam hari ya? Sampai ada pembatasan jam operasional kalau malam?” Hadeuh lagi deh

Ketika viral ada netizen yang mempertanyakan ketika dikenakan denda. Netizen lain, malah menyatakan bahwa Pemerintah abai untuk hal lainnya. Shalat Jumat di masjid-masjid, sudah banyak yang tidak menggunakan protokol kesehatan. Selain tidak menggunakan masker, mereka juga berdempetan karena memang tempat terbatas, sedangkan jumlah Jemaah cukup banyak. Mereka tidak sadar, kalau Jumlah PolPP tidak sebanyak jumlah penduduk Sumedang. Hahaha

Baca Juga : Pakai Masker Tetap Di Denda di Sumedang, Warga Bandung Viral

Terus…. COVID 19 tanggung jawab siapa? Pemerintahkah? Pol PP kah? Rumah sakit dan Dinas Kesehatan kah? Polisi dan Tentara kah?

Ternyata seharusnya tidak. Tidak hanya mereka. Kita semua yang harus peduli. Peduli ketika ada saudara dan tetanggan yang terkonfirmasi, untuk meminta mereka disiplin melakukan Isoman (jika tidak bergejala), sambil penuhi kebutuhan hidupnya jika Pemerintah lupa memberikan tanggungawabnya. Lakukan saja.

Peduli, ketika ada yang meninggal dengan COVID 19 untuk menyadarkan keluarganya agar dilakukan pemulasaraan secara protokol COVID 19, karena ditakutkan Virus masih bisa menyebar.

Peduli, untuk melakukan protokol kesehatan baik di Pemakaman, Pusat Pertokoan, keramaian, Syukuran dan hajatan baik pernikahan maupun lainnya, dan peduli untuk berhenti dulu berkerumun. Amankan diri Anda, Keluarga, dan Masyarakat. Kita tidak tahu, Anda yang menyebarkan, atau Anda korban dari penyebaran.

Seraya terus berdoa, semoga Kita Aman dari COVID 19. Aamiin. ***

Terima Kasih Untuk Berbagi Informasi, Silakan Klik Tombol di Bawah !
  • 19
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    19
    Shares