TiNewss.com

Berimbang Mengabarkan

Cerita Dibalik Musibah Longsor Cimanggung: Kesaksian Pemilik Warung

TiNewss.com – Bu Ade Namanya. Pemilik warung, yang selamat dari terjangan longsor yang dahsyat di Dusun Bojong Kondang Desa Cihanjuang, Kecamatan Cimanggung, pada Sabtu (9/01/2021). Bu Ade, selamat termasuk warung miliknya masih utuh hingga longsor beberapa kali terjadi.

Menurut Bu Ade, yang kini berusia 55 tahun, Longsor tersebut terjadi sebanyak 3 kali. Pertama, pada waktu siang sekitar pukul 14:00 WIB (9/1/2021), kedua pukul 19:00 lebih (9/11/2021) dan ketiga sekitar pukul 03:00 WIB pada hari Minggu (10/01/2021).

“Sewaktu longsor pertama kali, menimpa dua keluarga dengan jumlah 8 (delapan) orang,” kata Bu Ade.

Setelah kejadian pertama tersebut, kemudian hadir banyak petugas dan masyarakat sekitar lokasi. Bahkan jumlahnya hingga ratusan orang. Mereka berkumpul di lapangan Volley. Tempat dimana petugas juga melakukan evakuasi. Di lokasi yang sama, menurut Bu Ade, banyak orang yang melakukan pengabadian lokasi kejadian dengan membuat foto bahkan selfie.

Beruntung bunyi kumandang adzan Magrib membubarkan kerumunan warga. Sehingga warga bubar dari lapangan tersebut.

“Ya, warga yang berkerumun banyak sekali, Alhamdulillah sedikit membubarkan diri ketika adzan Maghrib berkumandang,” lanjut Bu Ade.

Ade tidak tahu bahwa masih ada warga yang berkerumun, karena listrik mati dan pandangan cukup gelap. Sebelum tiba-tiba longsor kedua terjadi.

“Tidak berapa lama setelah maghrib, ada suara dentuman terdengar sangat keras. Hanya dalam hitungan detik. Ini tidak seperti longsor, ini seperti air bah yang tumpah. Sangat Cepat,” kata Bu Ade.

Untuk diketahui, longsoran kedua ini yang terjadi ketika petugas sedang melakukan pemetaan dengan menggunakan senter. Longsor kedua ini, yang kemudian menimbulkan korban Danramil Cimanggung, MP Kecamatan Cimangggung, Kasi BPBD Kabupaten Sumedang, dan puluhan warga lainnya yang hingga kini belum ketemu.

Sebagaimana diutarakan Bu Ade, longsor kedua itu terjadi sangat cepat. Tiba-tiba ada suara dentuman dan bergemuruh seperti air bah yang ditumpahkan.

“Saya yang orang bodoh, memperkirakan bahwa itu bukan longsor karena datangnya cepat. Mungkin itu, air di dalam tanah yang jumlahnya banyak sekali sehingga tidak kuasa membendungnya dan mencari jalan keluar. Air itu kaya bitu (meletus). Sehingga datangnya ke bawah sangat cepat,” ujarnya Bu Ade menjelaskan beberapa kali.

Bu Ade, menjelaskan bahwa sejak kejadian pertama dan kedua, Rumah anaknya dan warung miliknya masih utuh. Namun, ketika longsor yang ke-tiga, rumah anaknya hancur diterjang longsor susulan sedangkan warung miliknya masih tetap utuh.

“Alhamdulillah, Saya dan keluarga selamat. Anak saya, suami, menantu, dan dua cucunya selamat. Anak laki-laki saya kebetulan sedang ke luar kota. Sedangkan menantu dan cucunya dibawa mengungsi ka mesjid. Sehingga ketika kejadian, Saya, suami, menantu dan dua cucu selamat,” jelas Bu Ade.

Namun, keselamatan Bu Ade dan keluarganya tetap menimbulkan duka mendalam. Bu Ade harus kelihangan tetangganya yang banyak menjadi korban dan belum ditemukan.

Rumah Bu Ade yang masih utuh tersebut, menjadi salah satu jalan agar alat berat bisa masuk ke lokasi bencana sehingga memudahkan evakuasi. Rumah dan warung seluas 140 Meter di relakan oleh Bu Ade, untuk dibongkar oleh Basarnas sebagai jalur masuknya alat berat.

“Saya relakan rumah yang walaupun masih utuh, untuk dibongkar sebagai jalan masuknya alat berat. Semoga Allah memudahkan para petugas dan relawan, menemukan jasad-jasad yang masih terkubur di longsoran tersebut,” kata Ade dengan nada terbata-bata, yang kini tinggal bersama di rumah kepala Desa Sindanggalih bersama suami, anak, menantu cucu dan dua keluarga yang lainnya. (ADD)*

Terima Kasih Untuk Berbagi Informasi, Silakan Klik Tombol di Bawah !
  • 12
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    12
    Shares