Belajar Sejarah Belajar Menghormati Jasa Orang Lain

Dr. Hj. Nunung Julaeha, M.Si. adalah Guru Sejarah Pada SMA Negeri 1 Sumedang. Merupakan Wanita Pertama Peraih Gelar Doktor pada Bidang Pendidikan Sejarah dari UPI Bandung.

Hari-hari terakhir berita terkait penghapusan mata pelajaran sejarah di tingkat SMA ramai diperbincangkan. Ramainya perbincangan diawali dengan beredarnya power point dengan judul Sosialisasi Penyederhanaan Kurikulum dan Assesmen Nasional Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan tanggal 25 Agustus2020. Di salah satu slide tertulis “draft rahasia” dan “draft dokumen ini tidak untuk disebar”. Terlepas hal itu bersifat draft rahasia dan tidak untuk disebar, yang terjadi draft sosialisasi tersebut sudah beredar dengan sangat cepat dan mendapat reaksi dari berbagai pihak dan kalangan yang salah satunya adalah guru-guru sejarah.

Dalam Sosialisasi Penyederhanaan Kurikulum tersebut, diantaranya terkait rencana “penghapusan” mata pelajaran sejarah di tingkat SMA dan tidak menjadi pelajaran wajib hanya menjadi mata pelajaran pilihan. Sementara di dalam kurikulum yang digunakan dewasa ini (Kurikulum 2013) mata pelajaran Sejarah Indonesia menjadi mata pelajaran wajib di setiap jenjang kelas X, XI dan XII dengan bobot 2 jam pelajaran.

Sesuai dengan tujuan pendidikan nasional seperti yang tertuang dalam UU No.20 Th. 2003 selain bertujuan mengembangkan potensi peserta didik, pendidikan juga bertujuan untuk menghasilkan manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta memiliki akhlak mulia. Di samping itu pendidikan nasional juga bertujuan untuk menghasilkan peserta didik yang berilmu, cakap, kreatif, mandiri, sehat serta diharapkan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggungjawab. Sejalan dengan tujuan pendidikan nasional, mata pelajaran sejarah tentu saja memiliki peranan yang sangat penting karena pelajaran sejarah berkaitan dengan upaya membangun jati diri bangsa dan karakter bangsa. Pelajaran sejarah di tingkat persekolahan sangat penting diajarkan dari tingkat sekolah dasar sampai dengan sekolah menengah, karena pengetahuan masa lampau mengandung nilai-nilai (values) kearifan yang dapat digunakan untuk melatih kecerdasan peserta didik, tidak hanya berhubungan dengan kecerdasan pengetahuan, tetapi juga membentuk sikap dan watak peradaban bangsa serta pembentukan manusia Indonesia yang memiliki rasa kebangsaan dan cinta tanah air.

Rencana “penghapusan” atau “penyederhanaan” mata pelajaran sejarah di tingkat SMA dengan sendirinya akan dipertanyakan serta mendapat respon pro kontra dari berbagai kalangan mulai dari guru, dosen, peneliti, pejabat, masyarakat bahkan mentri Pendidikan dan Kebudayaan angkat bicara. Penulis sebagai guru sejarah yang sudah mengajar lebih dari 30 tahun tentu mempertanyakan alasan rencana tersebut. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan melalui video yang beredar mengklarifikasi tentang polemik tersebut dengan menyatakan tidak ada kebijakan rencana penghapusan mata pelajaran sejarah dalam kurikulum nasional dan penyederhanaan kurikulum tidak akan terjadi sampai dengan tahun 2022. Nadiem juga menyampaikan bahwa misinya adalah ingin menjadikan pendidikan sejarah relavan dan menjadi menarik bagi generasi baru dan menginspirasi mereka. Identitas generasi baru yang nasionalis akan terbentuk melalui kolektif memori yang membanggakan dan menginspirasi.

Respon dari berbagai kalangan dengan berbagai argumentasi tentang rencanapenghapusan tersebut meskipun sudah disampaikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan sampai hari ini masih terus diperbincangkan. Perdebatan selanjutnya adalah terkait mata pelajaran sejarah sebagai mata pelajaran wajib atau mata pelajaran pilihan. Sejatinya pelajaran sejarah tetap menjadi pelajaran wajib, bukan sebuah mata pelajaran pilihan, karena memiliki jati diri sebagai bangsa Indonesia wajib dimiliki oleh seluruh bangsa Indonesia, yang proses pembentukannya lewat mata pelajaran sejarah, dan pengelolaannya dilakukan oleh guru-guru sejarah yang profesional.

Anggapan pembelajaran sejarah dianggap tidak sesuai dengan pembelajaran dalam pendidikan abad 21 atau revolusi industri 4.0, pembelajaran sejarah tidak futuristik, pembelajaran sejarah sama saja dari sekolah dasar sampai dengan sekolah menengah, hanya mengajarkan revolusi, peperangan atau pertempuran bahkan materi sejarah dianggap Jawa sentris menurut penulis tidak benar. Pelajaran sejarah di tingkat persekolahan memanfaatkan sejarah yang sudah ditulis melalui metodelogi keilmuan yang tentu dalam perjalanannya akan mengalami perkembangan terus menerus sesuai dengan temuan dan kajian.

Sesuai dengan konsep sejarah, manusia, ruang dan waktu tentu sejarah adalah mata pelajaran yang mempelajari peristiwa masyarakat manusia pada masa yang lampau. Materi sejarah tidak hanya menyangkut kecemerlangan suatu bangsa, tetapi juga menyangkut kegagalan suatu bangsa. Baik yang menyangkut kecemerlangan maupun kegagalan bangsa dalam melangsungkan kehidupan di dalamnya banyak nilai-nilai (values) yang bisa digunakan untuk membentuk watak dan karakter bangsa.

Menjadi tugas besar bagi guru sejarah untuk menghilangkan berbagai anggapan miring tentang pembelajaran sejarah. Masalah umum pembelajaran sejarah yang membosankan dan tidak menarik, bahkan dikategorikan sebagai pelajaran hapalan dewasa ini sebagian besar sudah tidak lagi ditemukan. Tugas guru sejarah adalah menjadi pengembang kurikulum di tingkat satuan pendidikan. Mengembangkan kurikulum di tingkat satuan pendidikan dilakukan melalui perencanaan yang matang, disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik dan tentunya sinergis dengan potensi daerah. Kebutuhan peserta didik setiap generasi tentu berbeda. Peserta didik sebagai pengguna teknologi terbesar di era 4.0 tentu harus disikapi oleh guru-guru sejarah dengan perencanaan pembelajaran yang sesuai.

Di tangan guru-guru sejarah yang profesional pembelajaran sejarah dapat disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik dewasa ini. Di samping itu pelajaran sejarah dapat mengintegrasikan berbagai nilai-nilai yang terdapat dalam sejarah lokal agar jati diri bangsa Indonesia terbentuk dimulai dengan belajar sejarah dari lingkungan tempat tinggal peserta didik. Banyak peristiwa lokal yang heroik tidak terkafer dalam silabus nasional yang bisa diteladani oleh peserta didik sehingga terbentuk sikap dan watak peserta didik yang menghargai dan menghormati jasa para pejuang, bahkan dalam kehidupan sehari-hari  terbentuk sikap untuk senantiasa menghargai dan menghormati jasa dan pekerjaan orang lain. Menurut penulis orang yang tidak pernah belajar sejarah sulit bagi dirinya untuk menghargai dan menghormati jasa orang lain apalagi terbiasa mengucapkan terimakasih.

Penulis adalah Guru Sejarah SMAN 1 Sumedang dan Ketua MGMP Sejarah SMA Kabupaten Sumedang

Terima Kasih Untuk Berbagi Informasi, Silakan Klik Tombol di Bawah !
  • 127
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    127
    Shares
%d blogger menyukai ini: